Akhir-akhir ini sedang nggak jelas banget. Pekerjaan gak jelas, pasangan gak jelas. Hehe.
Setelah badrest hampir 3 bulan kemarin, belum dapat kerjaan tetap lagi. Sudah daftar-daftar ke banyak media, tapi belum diterima. Entah kenapa. Tapi sebagai penulis freelance, ada saja rizki sih, jadi aku hidup dengan uangku sendiri. Alhamdulillah.
Aku sedang berpikir serius, mauku ke depan seperti apa. Inginnya jadi peneliti. punya pengalaman kuliah di luar negeri. Terus kerja dengan hati nyaman di indonesia, tinggal gak jauh dari Jakarta, biar bisa tetap dekat dengan keluarga mas-masku di Depok. Misal kerja di Bogor, dapat suami kerja tetap di sana. Nah, kalau gitu mantaplah nikah sama mas Imam, dia kan kerja di Bogor. Hihihi. Andai menulis takdir semudah menulis diary.
Aku mau kuliah lagi, secara bahasa Inggrisku belum mencapai target, kayaknya aku musti tahu diri, butuh waktu lagi untuk meningkatkan kemampuan Inggrisku untuk bisa kuliah di LN. jadi, sementara ini persiapan aja kuliah di indonesia. Jurusan apa? kalau boleh milih, mau ambil Biomedis. Kenapa? karena peluang kerjanya cukup fleksibel di semua kota. Apalagi kota Bogor. hahaha Bogor lagi. Maksudku, sejak sakit kemarin, aku makin mantap ambil Biomedis. Secara mas-masku pingin aku jadi PNS aja gitu. Jadi, aku sedang berupaya untuk kerja jadi PNS. Caranya panjang sih, muter-muter.
For many reasons, aku merasa harus kuliah dulu S2 baru daftar CPnS. Aku bisa bekerja di Dinas, Kementrian, LIPI, juga jadi dosen Poltekes. Gitu kalau aku lulus Biomedis UI, Amiin. Soalnya aku sudah coba-coba daftar wartawan lagi malah gak diterima, Allah pasti lebih tahu yang terbaik untukku.
Termasuk soal jodoh. Kalua berjodoh dengan mas imam, alhamdulillah. Kalaupun tidak, alhamdulillah punya teman baru. semoga ke depan sama dia, tak ada hal-hal yang menyakitkan hati. Apapun bentuk hubungan itu.
Btw, sekian waktu ini aku komunikasi intens dengan Hana, teman di papua lulusan biomedis S2 UGM. bagus untuk membuka komunikasi soal Biomedis. Cari teman yang semangatnya sama.
selain itu, kalau aku sudah dalam keadaan PW (posisi wuenak), atau setidaknya keadaan stabil, aku mau main film, serius nih. Itu obsesiku yang belum tercapai. tapi aku merawat penamplan dulu. Setidaknya buang bekas jerawat dulu dan mempertahankan berat badan. memuluskan kulit. Hedeeeeh. :p
Cerita ngalor ngidul yang berlarian di pikiranku. Trying to be honest and just being me all of the times. Just to express, not to impress, not to get comments. ;-)
Minggu, 05 Februari 2012
The Candidats
Tahun baru ini, sedang dicombalingin dengan orang baru. Siapakah dia?
Seseorang yang sedang studi PhD jauh di Benua Biru. Jerman? Bukan. Kan yang di Jerman sudah sepakat berakhir.
Inisial DMA (huruf akhir 3 kata namanya :)
Umur : kira-kira 28 (lulusan SMA 2001 gitu).
Bidang Studi : Biologi
Asal : Sumatra
Saat chatting waktu lalu, aku tahu dia cukup menghargai jiwa pelaku seni. Itu kabar bagus. karena aku orangnya rumit dan sewaktu-waktu darah seniku mengalir. Kedua, nampaknya dia anak baik-baik, nggak macem-macem, dan tidak merorok.
Ini masih awal banget. Aku tidak tahu ke depan seperti apa. Dijalani pelan-pelan saja. Mengenal pelan-pelan. Juga tidak ingin terlalu berharap. Biar kalau misal tak berjodoh, gak terlalu sakit hati.
Ya Allah, aku sudah berusaha menjalin kenalan dengan berapa laki-laki? Malas mengingatnya. Haha. Konon, perempuan akan mengurangi jumlah yang sebenarnya pengalamannya menjalin relationship dengan laki-laki, sementara laki-laki kebalikannya. Katanya sih, nggak semua kali ya.
Kali ini aku hanya ingin merayakan hati yang hidup lagi. Hidup karena sedang coba mengenal seseorang. Belum tentu dia jodohku, tapi aku berharap dia. Setiap kali kenalan kayaknya aku berharap seseorang itu jodohku. Lalu ternyata ada konflik dan gesekan kemauan, ternyata tidak berjodoh dalam cinta, berjodoh dalam persahabatan. Atau bahkan nggak berjodoh keduanya. Bersahabat pun dia tidak mau. Hihi. Ya sudahlah.
Ya Allah, kali ini aku berharap berjodoh dengannya. Jangan sampai ada hal yang menyakitkan ke depan. Jika harus ada perbedaan, semoga tidak saling menyakiti hati.
Atau aku berjodoh dengan seorang yang lain? Yang juga sedang PhD di Eropa. Entah kenapa, aku merasa ada sedikit chemistry dengan dia. Halaaah. Tapi aku nggak tahu yang ada di hatinya. Punya pacar atau tidak aku pun tidak tahu. Beberapa kali interaksi. Kalau dia jatuh cinta padaku, aku bisa jatuh cinta padanya. Hihihi. Hatiiku tercecer dimana-mana. Ini karena kedua orang itu belum ada yang menegaskan kepadaku. kalau salah satu dari kedua itu menyatakan ingin denganku, aku pasti setia. Nggak toleh kanan kiri lagi.
Ini karena belum ada yang musti kujaga hatinya.
Ya Allah, tunjukkan padaku bagaimana aku seharusnya, agar bisa menjadi pasangan salah satu dari kedua itu? Karena nggak ada laki-laki lain yang menarik perhatianku kecuali kedua di atas.
Ya Allah sabarkan aku. Yakinkan aku untuk sabar menunggu dan terus meningkatkan kualitas diri.
Bismillah... ;)
-
Seseorang yang sedang studi PhD jauh di Benua Biru. Jerman? Bukan. Kan yang di Jerman sudah sepakat berakhir.
Inisial DMA (huruf akhir 3 kata namanya :)
Umur : kira-kira 28 (lulusan SMA 2001 gitu).
Bidang Studi : Biologi
Asal : Sumatra
Saat chatting waktu lalu, aku tahu dia cukup menghargai jiwa pelaku seni. Itu kabar bagus. karena aku orangnya rumit dan sewaktu-waktu darah seniku mengalir. Kedua, nampaknya dia anak baik-baik, nggak macem-macem, dan tidak merorok.
Ini masih awal banget. Aku tidak tahu ke depan seperti apa. Dijalani pelan-pelan saja. Mengenal pelan-pelan. Juga tidak ingin terlalu berharap. Biar kalau misal tak berjodoh, gak terlalu sakit hati.
Ya Allah, aku sudah berusaha menjalin kenalan dengan berapa laki-laki? Malas mengingatnya. Haha. Konon, perempuan akan mengurangi jumlah yang sebenarnya pengalamannya menjalin relationship dengan laki-laki, sementara laki-laki kebalikannya. Katanya sih, nggak semua kali ya.
Kali ini aku hanya ingin merayakan hati yang hidup lagi. Hidup karena sedang coba mengenal seseorang. Belum tentu dia jodohku, tapi aku berharap dia. Setiap kali kenalan kayaknya aku berharap seseorang itu jodohku. Lalu ternyata ada konflik dan gesekan kemauan, ternyata tidak berjodoh dalam cinta, berjodoh dalam persahabatan. Atau bahkan nggak berjodoh keduanya. Bersahabat pun dia tidak mau. Hihi. Ya sudahlah.
Ya Allah, kali ini aku berharap berjodoh dengannya. Jangan sampai ada hal yang menyakitkan ke depan. Jika harus ada perbedaan, semoga tidak saling menyakiti hati.
Atau aku berjodoh dengan seorang yang lain? Yang juga sedang PhD di Eropa. Entah kenapa, aku merasa ada sedikit chemistry dengan dia. Halaaah. Tapi aku nggak tahu yang ada di hatinya. Punya pacar atau tidak aku pun tidak tahu. Beberapa kali interaksi. Kalau dia jatuh cinta padaku, aku bisa jatuh cinta padanya. Hihihi. Hatiiku tercecer dimana-mana. Ini karena kedua orang itu belum ada yang menegaskan kepadaku. kalau salah satu dari kedua itu menyatakan ingin denganku, aku pasti setia. Nggak toleh kanan kiri lagi.
Ini karena belum ada yang musti kujaga hatinya.
Ya Allah, tunjukkan padaku bagaimana aku seharusnya, agar bisa menjadi pasangan salah satu dari kedua itu? Karena nggak ada laki-laki lain yang menarik perhatianku kecuali kedua di atas.
Ya Allah sabarkan aku. Yakinkan aku untuk sabar menunggu dan terus meningkatkan kualitas diri.
Bismillah... ;)
-
Kamis, 02 Februari 2012
Seniman is Seniman :D
Apakah itu seniman? Dari asal katanya berarti pelaku seni, atau orang yang punya karya seni. Kadang aku bertanya pada diri sendiri, apakah aku termasuk seniman? Entahlah, aku kadang nggak yakin, karena berkarya tapi tidak kontinyu. Aku coba menghargai diri sendiri dan jujur kalau aku memang punya karya, apa itu? Aku pernah serius belajar teater dan segala perihalnya, terutama akting. Meski baru pentas beberapa kali dibandingkan mereka yang totalitas terjun di sana.
Karena pernah sungguh-sungguh berproses diantara seniman, membuat karya dengan seniman lain, aku boleh mengaku punya ketertarikan dalam seni. Setelah aku ke Jakarta dan menjadi wartawan, aku hampir lupa soal akting. Tapi yang namanya darah seni mungkin tetap mengalir. Selama aku jauh dari lingkungan seniman, aku sering punya ide-ide karya untuk dibuat dalam bentuk video singkat, tapi tidak pernah terwujud, hanya sampai tataran konsep. Bahkan, soal setting, kostum, dll sudah kubayangkan dengan matang. Lagi-lagi, hanya dalam konsep. Kecuali soal foto, karena lebih mudah medianya, jadi bisa terwujud. Kebetulan ponakanku kuliah multimedia, jadi kami kadang coba-coba pemotretan dengan konsep tertentu di rumah lantai 2. Kebetulan di rumah masku di lantai dua, pembatas luarnya kaca semua dan cukup luas untuk dijadikan 'studio darurat' yang unik karena transparan. Karena rumah di area Kopassus, sering helicopter dan pasukan tentara bernyanyi lewat. Kalau pas pemotretan bersamaan jadwal helicopter lewat, bisa jadi pilotnya lihat kami pemotretan. Studio yang tidak ditemukan di tempat lain. :D
Akhir-akhir ini aku punya rencana untuk buat karya sesuatu, dengan seorang kawan pelaku seni juga. Yang aku pasang di profil picture. Dia teman seangkatanku beasiswa Actor Studio Garasi 2007. Dulu pernah pentas bareng dan tentu saja berproses bareng. Dia lulusan Teologi Kristen, kini menjadi pendeta, mendampingi gereja di Jawa Timur, kami hampir 3 tahun tidak bertemu. Tapi namanya darah seni, mungkin nggak bisa dihentikan mengalir, we are trying to do something, meski jarah jauh.
Sebenarnya untuk apa sih melakukan itu semua? Untuk apa berkarya? Akupun saat ini belum menemukan jawaban yang memuaskan. Ini semacam pertanyaan, untuk apa seseorang menanam bunga, untuk apa seseorang membuat puisi, untuk apa seseorang menghias jok mobil, untuk apa seseorang koleksi pespa, untuk apa memilih batik, dsb. Passion atau hasrat terhadap sesuatu kadang pemenuhannya sulit dijelaskan.
Semacam seseorang yang memiliki passion dalam memasak. Itu bukan persoalan memenuhi kebutuhan lapar, mengolah bahan dan bumbu bukan semata untuk dimakan, tapi semacam meningkatkan daya tertentu dari kedalaman saat meraciknya. Seperti perasaan seniman saat memahat patung, saat perupa memilih bahan dasar, saat aktor improvisasi bloking, saat penyair menyusun diksi, saat teknisi mempertemukan hukum-hukum fisika, saat ilmuwan sibuk membuktikan hipotesis, dan saat wartawan memilih judul. Begitulah.
Jalan tiap orang lain-lain, menurutku siapapun yang sungguh-sungguh menekuni pilihannya, semua itu baik. Ada orang yang sejak dini fokus ke suatu bidang dan kini sudah sampai di titik matang. Sedangkan aku, termasuk yang sulit fokus. Tapi manusia bisa belajar dan berubah, termasuk aku untuk belajar lebih fokus. Idolaku Pak Dahlan Iskan pernah bilang, beliau tidak punya cita-cita (khusus), jadi saat meraih suatu hal dan banyak hambatan, beliau tidak akan bersikukuh nambrak hambatan itu. Tapi segera beralih fokus dan melakukan sebaik-baiknya yang dia bisa. Mungkin selama ini aku termasuk yang begitu. Tapi lain waktu, mungkin aku akan coba berani menabrak hambatan, jika itu demi kebaikan.
Sekian waktu lalu, aku bikin Plan A, B, C. Plan A tidak terwujud (atau mungkin tertunda). Maka sampailah aku pada plan B. Saat ini aku punya komitmen terhadap diri sendiri untuk mencari jalan mengaplikasikan ilmu Biologi yang kuperoleh di bangku kuliah. Aku ingin sekali Allah mengabulkan cita-citaku, kuliah master biologi aplikatif sesegera mungkin dan menyelesaikan dengan baik. Aku tidak punya cukup uang untuk membiayai kuliah itu. Mahal. Jadi, aku harus berusaha keras mencari sponsor dan beasiswa. Cari dimana ya? Hwaaa. Semoga sungguh nanti aku menemukan jalan. Kuliah ini penting buatku, karena itu akan berpengaruh terhadap jalan kehidupanku mendatang. Ini menjadi fokus utamaku di atas yang lain-lain. Namun, karena darah seni terus mengalir, aku harus mengalirkannya ke dalam bentuk karya tertentu. Aku hanya perlu mengolahnya agar ini tidak menjadi pengganggu fokus utamaku, tidak menjadi penghalang cita-cita utamaku, justru mustinya menjadi energi yang mendukung dan mencerahkan hidup. Amiin.
Senin, 23 Januari 2012
Banyak Telor Goreng
Anda ingin tahu banyak telur goreng? Kalau tidak, jangan diteruskan baca. Cukup sampai di sini.
Mau lanjut? Oke. Telur goreng. Telur goreng enak dimakan saat siang. Karena saat siang paling enak makan telur goreng. Jadi ingat pesan, kalau makan siang enaknya makan telur goreng. Apalagi kalau telur goreng dimakan siang-siang, pasti enak makan telur goreng saat siang. Jadi, kalau siang tiba, tibalah saatnya makan telur goreng. Anda suka telur goreng? Makanlah siang-siang. Apakah saat membaca ini sedang siang? Kalau demikian, makanlah telur goreng. Atau tidak siang? Kalau begitu,.. hah? Anda masih ingin lanjut baca tulisan ini?
Pusing kan baca tulisan muter-muter balik lagi ke situ-situ lagi. Aku baru baca status teman yang muter-muter penjelasannya. Lalu aku mencoba membuat yang lebih muter lagi. Itu saja.
Mau lanjut? Oke. Telur goreng. Telur goreng enak dimakan saat siang. Karena saat siang paling enak makan telur goreng. Jadi ingat pesan, kalau makan siang enaknya makan telur goreng. Apalagi kalau telur goreng dimakan siang-siang, pasti enak makan telur goreng saat siang. Jadi, kalau siang tiba, tibalah saatnya makan telur goreng. Anda suka telur goreng? Makanlah siang-siang. Apakah saat membaca ini sedang siang? Kalau demikian, makanlah telur goreng. Atau tidak siang? Kalau begitu,.. hah? Anda masih ingin lanjut baca tulisan ini?
Pusing kan baca tulisan muter-muter balik lagi ke situ-situ lagi. Aku baru baca status teman yang muter-muter penjelasannya. Lalu aku mencoba membuat yang lebih muter lagi. Itu saja.
Selasa, 17 Januari 2012
Biomedical Science
Akhir-akhir ini aku sedang berpikir serius mengenai masa depan yang tepat untukku. Tentang pilihan studi master yang ingin aku ambil, sebenarnya aku sudah mantap memilih Ilmu Biomedis. Hanya saja aku perlu memastikan diri mengapa mengambil itu dan apa tujuanku ke depan.
Pertama, aku memiliki ketertarikan yang besar atas pengetahuan kesehatan secara umum. Sejauh ini hanya diterapkan untuk diri sendiri dengan komitmen menerapkan pola hidup sehat. Kedua, banyak masalah kesehatan di negaraku Indonesia yang belum ditangani secara optimal, kurangnya penelitian kebijakan kesehatan yang bisa memberi masukan yang signifikan terhadap pembangunan kesehatan masyarakat.
Aku sebagai sarjana sains Biologi, memang belum memiliki pengalaman kerja di bidang biologi aplikatif. Segera setelah lulus, aku langsung menjadi wartawan koran harian, lalu bekerja di lembaga riset CONCERN (Conflict and Peace Researh Network), lembaga swasta yang didirikan oleh Prof Hermawan Sulistyo. Dalam pengalaman kerjaku, aku dituntut untuk memahami dan menganalisis masalah apa saja secara kritis di luar background studiku Biologi. Aku tipikal orang yang cepat belajar jika mempelajari sesuatu yang kuminati. Ketika lulus dari Biologi, saya memang belum tahu jalan apa yang aku pilih untuk memanfaatkan ilmu Biologi Dasar yang kuperoleh di universitas. Namun seiring dengan waktu, saya menyadari bahwa passion saya adalah ingin memanfaatkan ilmu biologi sekaligus meningkatkan kemampuan analisis saya untuk kelak bisa bekerja di sektor kesehatan publik.
Pengalaman saya sebagai wartawan dapat sebagai modal dasar untuk menganalis permasalahan global negara atau dunia, mengakses sumber dengan pengalaman investigasi kewartawanan untuk mendapatkan data secara detail dan akurat, dan tentu saja mendapatkan link yang luas. Lalu, pengalaman saya di lembaga riset CONCERN, membantu meningkatkan pemahaman saya soal masalah-masalah sosial yang bertujuan untuk mencegah konflik dan membangun perdamaian.
Bekal Sarjana sains di bidang Biologi membantu saya lebih mudah memahami konsep dasar kedokteran dan kesehatan secara umum. Dengan mengambil studi Health Science, saya yakin setelah lulus, saya bisa memberikan manfaat yang lebih baik untuk masyarakat dalam bidang kesehatan.
Indonesia memiliki banyak permasalahan pembangunan kesahatan yang belum terselesaikan dengan baik. Indonesia memiliki penduduk terbesar ke-4 di dunia, beriklim tropis, memiliki tenaga medis yang cukup, namun kurang merata di seluruh penjuru. Kurangnya sumber daya manusia yang melakukan penelitian secara menyeluruh mengenai kebijakan kesehatan menjadi salah satu kendala dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Setelah menyelesaikan program master di NIHES, saya ingin bekerja sebagai peneliti dalam bidang kesehatan publik maupun perkembangan kebijakan kesehatan. Atau, bisa juga saya kembali menjadi wartawan untuk desk Health. Dalam media, juga penting diperlukan seorang wartawan yang memahami persoalan kesehatan publik yang mampu mentranfer pengetahuan kesehatan dengan lebih baik dan efektif.
Selain itu, sebagai perempuan yang lahir di sebuah desa kecil di negara berkembang seperti Indonesia, saya ingin menjadi inspirasi bagi mereka yang merasa kurang beruntung, dilahirkan di tempat dengan keterbatasan akses informasi, bisa maju dan optimis mampu mendapatkan pendidikan pengetahuan internasional di tempat terbaik.
Saya tidak memiliki bekal uang membiayai studi ini, namun saya memiliki keingintahuan akademik (acedemic curiosity), refleksi kritis (critical reflection), dan pengamalan keterlibatan sosial dengan sejumlah komunitas, karena itu saya yakin bekal tersebut saya akan bisa mendapatkan beasiswa.
Pertama, aku memiliki ketertarikan yang besar atas pengetahuan kesehatan secara umum. Sejauh ini hanya diterapkan untuk diri sendiri dengan komitmen menerapkan pola hidup sehat. Kedua, banyak masalah kesehatan di negaraku Indonesia yang belum ditangani secara optimal, kurangnya penelitian kebijakan kesehatan yang bisa memberi masukan yang signifikan terhadap pembangunan kesehatan masyarakat.
Aku sebagai sarjana sains Biologi, memang belum memiliki pengalaman kerja di bidang biologi aplikatif. Segera setelah lulus, aku langsung menjadi wartawan koran harian, lalu bekerja di lembaga riset CONCERN (Conflict and Peace Researh Network), lembaga swasta yang didirikan oleh Prof Hermawan Sulistyo. Dalam pengalaman kerjaku, aku dituntut untuk memahami dan menganalisis masalah apa saja secara kritis di luar background studiku Biologi. Aku tipikal orang yang cepat belajar jika mempelajari sesuatu yang kuminati. Ketika lulus dari Biologi, saya memang belum tahu jalan apa yang aku pilih untuk memanfaatkan ilmu Biologi Dasar yang kuperoleh di universitas. Namun seiring dengan waktu, saya menyadari bahwa passion saya adalah ingin memanfaatkan ilmu biologi sekaligus meningkatkan kemampuan analisis saya untuk kelak bisa bekerja di sektor kesehatan publik.
Pengalaman saya sebagai wartawan dapat sebagai modal dasar untuk menganalis permasalahan global negara atau dunia, mengakses sumber dengan pengalaman investigasi kewartawanan untuk mendapatkan data secara detail dan akurat, dan tentu saja mendapatkan link yang luas. Lalu, pengalaman saya di lembaga riset CONCERN, membantu meningkatkan pemahaman saya soal masalah-masalah sosial yang bertujuan untuk mencegah konflik dan membangun perdamaian.
Bekal Sarjana sains di bidang Biologi membantu saya lebih mudah memahami konsep dasar kedokteran dan kesehatan secara umum. Dengan mengambil studi Health Science, saya yakin setelah lulus, saya bisa memberikan manfaat yang lebih baik untuk masyarakat dalam bidang kesehatan.
Indonesia memiliki banyak permasalahan pembangunan kesahatan yang belum terselesaikan dengan baik. Indonesia memiliki penduduk terbesar ke-4 di dunia, beriklim tropis, memiliki tenaga medis yang cukup, namun kurang merata di seluruh penjuru. Kurangnya sumber daya manusia yang melakukan penelitian secara menyeluruh mengenai kebijakan kesehatan menjadi salah satu kendala dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Setelah menyelesaikan program master di NIHES, saya ingin bekerja sebagai peneliti dalam bidang kesehatan publik maupun perkembangan kebijakan kesehatan. Atau, bisa juga saya kembali menjadi wartawan untuk desk Health. Dalam media, juga penting diperlukan seorang wartawan yang memahami persoalan kesehatan publik yang mampu mentranfer pengetahuan kesehatan dengan lebih baik dan efektif.
Selain itu, sebagai perempuan yang lahir di sebuah desa kecil di negara berkembang seperti Indonesia, saya ingin menjadi inspirasi bagi mereka yang merasa kurang beruntung, dilahirkan di tempat dengan keterbatasan akses informasi, bisa maju dan optimis mampu mendapatkan pendidikan pengetahuan internasional di tempat terbaik.
Saya tidak memiliki bekal uang membiayai studi ini, namun saya memiliki keingintahuan akademik (acedemic curiosity), refleksi kritis (critical reflection), dan pengamalan keterlibatan sosial dengan sejumlah komunitas, karena itu saya yakin bekal tersebut saya akan bisa mendapatkan beasiswa.
Jumat, 13 Januari 2012
Wonder and Jealous
Officially today I wonder and be jealous. Good! It means my heart is alive. I can fall in love again. I have a nice dream in love.
I met someone who I forget when officially I and him know each other. Suddenly I realize he is to be my friend in my Facebook. I really forget when I add him, or he added me first. But I think I add him because I want to get coverage something when I was be a reporter.
One day in middle of 2011, I was making a polling about something. And I think I chose him as one of my responders, but he forget to answer, in advance he said he want to answer my polling when he is in affice. At the time, he was going to office. And then, I forget and I think so did he. Nextime, he say hello to discuss something. And then, I know him more. But, at the time, I have relationship with massanto, so I dont really want to know about someone else. halah. Gitu deh akibatnya orang setia, suka gak tengok kanan kiri. hehe. But it is Ok. And then, I really meet him, he is an inspiring person. Kenapa gak dari dulu ya, komunikasi intens sama dia. I means I should learn more about my dream from him. Masa sih? Pokoknya gitu deh. Di mataku dia hebat. Terus kalau hebat, kenapa? I like him gitu? Doh, mudah amat aku jatuh cinta, ya gak secepat gitu. I means I just I really terkesan dengan sosoknya. I think sometimes I remember about him. Haha, aku bakal muter-muter menjelaskannya nih.
Finally, today I read something. And several days ago, I found a sentence that make me be jealous. Today too. Oh my God, Should I gotta go my own way?
Okay deh. I dont wanna hurt my own heart. So, I should face the pain today. Trying to don't think more about him. Ikhlaskan. Haha. Oke oke..
I met someone who I forget when officially I and him know each other. Suddenly I realize he is to be my friend in my Facebook. I really forget when I add him, or he added me first. But I think I add him because I want to get coverage something when I was be a reporter.
One day in middle of 2011, I was making a polling about something. And I think I chose him as one of my responders, but he forget to answer, in advance he said he want to answer my polling when he is in affice. At the time, he was going to office. And then, I forget and I think so did he. Nextime, he say hello to discuss something. And then, I know him more. But, at the time, I have relationship with massanto, so I dont really want to know about someone else. halah. Gitu deh akibatnya orang setia, suka gak tengok kanan kiri. hehe. But it is Ok. And then, I really meet him, he is an inspiring person. Kenapa gak dari dulu ya, komunikasi intens sama dia. I means I should learn more about my dream from him. Masa sih? Pokoknya gitu deh. Di mataku dia hebat. Terus kalau hebat, kenapa? I like him gitu? Doh, mudah amat aku jatuh cinta, ya gak secepat gitu. I means I just I really terkesan dengan sosoknya. I think sometimes I remember about him. Haha, aku bakal muter-muter menjelaskannya nih.
Finally, today I read something. And several days ago, I found a sentence that make me be jealous. Today too. Oh my God, Should I gotta go my own way?
Okay deh. I dont wanna hurt my own heart. So, I should face the pain today. Trying to don't think more about him. Ikhlaskan. Haha. Oke oke..
Selasa, 03 Januari 2012
Mencari "Kabel"
Beberapa waktu lalu menemani kawan yang katanya sedang mencari kabel untuk mesin cuci. Maka kami menuju toko elektronik mesin cuci di mall. Saat menanyakan kabel itu, para pelayan tidak menemukan barang yang dimaksud kawanku.
Kabel untuk mesin cuci, seperti apakah itu? Aku sebenarnya agak bingung juga yang dimaksud temanku. Karena saat ditunjukkan stop kontak, dia mengatakan bukan itu yang dimaksud. Tapi aku ikuti saja kemana langkahnya menuju, naik turun eskalator dan tanggal mall mencari kabel.
Lalu, saat sudah naik turun mall, mencari kabel namun tidak ada yang cocok, temanku bilang, "Lel, kayaknya yang kucari bukan kabel, tapi selang. Itu lho yang menghubungkan mesin cuci dengan kran. Aku lupa istilahnya. Dalam pikiranku selang, tapi mulutku kok bilang kabel ya."
Gubrak!
Kabel untuk mesin cuci, seperti apakah itu? Aku sebenarnya agak bingung juga yang dimaksud temanku. Karena saat ditunjukkan stop kontak, dia mengatakan bukan itu yang dimaksud. Tapi aku ikuti saja kemana langkahnya menuju, naik turun eskalator dan tanggal mall mencari kabel.
Lalu, saat sudah naik turun mall, mencari kabel namun tidak ada yang cocok, temanku bilang, "Lel, kayaknya yang kucari bukan kabel, tapi selang. Itu lho yang menghubungkan mesin cuci dengan kran. Aku lupa istilahnya. Dalam pikiranku selang, tapi mulutku kok bilang kabel ya."
Gubrak!
Langganan:
Postingan (Atom)