Hanya kepada Dia-lah kita berharap...
Aku sudah tahu, kunci menjalani hidup memang mustinya begitu. Hanya kepada Allah, aku berharap. Tapi mungkin kadang aku lupa, jadi rasanya hidup ini kadang begitu berat dan tidak tahu dimana ujungnya. Padahal, siapapun percaya, kematian adalah niscaya.
Berat amat ya bicara kematian..
Tapi ini memang benar, kemarin aku sedang takut mati karena pendarahan dari hidung selama 12 jam. Lalu, keluar darah bergumpal-gumpal dari rongga hidung. Untung tidak opname, hanya dirawat sebentar di RS. dan kenapa eh kenapa? Dokter juga tidak memberi penjelasan yang memuaskan. Karena pembuluh darah pecah, gitu aja. Lha, pecah karena apa? Penjelasan dokter tidak memuaskan. Intinya karena pembuluh darah pecah. Biasanya karena darah tinggi. Aku tidak darah tinggi. Awalnya dikira demam berdarah, setelah cek darah, trombosit normal, tekanan darahku normal malah cenderung darah rendah. Nah...
Jadilah harus cari penyebabnya sendiri.
hikmahnya aku harus belajar biologi lagi.
Di satu sisi aku takut, di sisi lain aku punya harapan. Harapan? Ya. dengan merasa semua baik-baik saja, aku masih punya harapan mencapai cita-cita yang belum tercapai. Kuliah di luar negeri. Amiin.
Cerita ngalor ngidul yang berlarian di pikiranku. Trying to be honest and just being me all of the times. Just to express, not to impress, not to get comments. ;-)
Sabtu, 12 November 2011
Rabu, 09 November 2011
Cinta itu Ilusi Besar?
Demi membuka cinta baru, saat itu aku berusaha keras untuk menutup kisah-kisah lama, salah satunya blockir akun. Duh, aku jahat nggak ya? Tapi ini demi kebaikanku. Biar nggak terlalu sedih lihat orang yang pernah disayangi malah sayang-sayangan sama pacarnya di wall. Mungkin gpp sih, tapi nggak nyaman saja di mata. Qiqiqi. Lalu, bener kan setelah menemukan cinta baru, lebih mudah untuk fokus.
Lalu sekarang kan aku free, nggak ada yang harus kujaga hatinya, jadi bisa buka kembali. Buka luka lama? buat apa lel? Hihi. Buat diepresikan saja, biar nggak terlalu nyesek di dada.
Kalau ingat kisah yang sudah-sudah, cinta terasa BIG illusion. Kata pepatah, ketika cinta kita tulus, cinta itu takkan pernah sirna meski telah berpisah. Cinta itu tetap ada, hanya saja kita telah terbiasa tanpanya.
Lalu sekarang kan aku free, nggak ada yang harus kujaga hatinya, jadi bisa buka kembali. Buka luka lama? buat apa lel? Hihi. Buat diepresikan saja, biar nggak terlalu nyesek di dada.
Kalau ingat kisah yang sudah-sudah, cinta terasa BIG illusion. Kata pepatah, ketika cinta kita tulus, cinta itu takkan pernah sirna meski telah berpisah. Cinta itu tetap ada, hanya saja kita telah terbiasa tanpanya.
Lain Maseki, Lain Massanto
Beberapa waktu lalu, Massanto menghapus beberapa komen-komenku di fotonya. Uh, sedihnya. Dia seolah sedang menghapusku. Padahal, aku nggak menghapus komen-komen dia. Aku coba berpikir positif, mungkin dia menghapusku agar lebih mudah melupakanku. Itu berarti karena aku pernah sangat berarti baginya. Hihihi aku GR.
Aku berpikir demikian, karena pengalamanku begitu. Aku blockir FB Masseki justru karena Masseki berarti buatku dan aku tidak ingin menambah sakit hati jika menemukan wall-nya yang sayang-sayangan di "home page of facebook" ku. Saat itu aku ingin membuang semua soal Masseki agar lebih mudah melupakan.
Mungkin Massanto begitu kali ya, jadi aku harus siap-siap jika suatu kali Massanto memblockir FB-ku. :(
Lain dengan Masseki, setelah kublockir FB-nya. Lalu, aku kirim sms, dia masih balas. Lalu setelah sekian bulan, aku mau add lagi. Kulihat dulu, ternyata komen-komenku nggak dihapus. Bisa dua arti, pertama karena di matanya aku tak terlalu membekas di hatinya, jadi ya biarkan saja, tulisan-tulisan ada. Kedua, justru karena aku tetap istimewa di hatinya. Qiqiqi. Duh Lel, kok kamu selalu bikin diri sendiri GR. #ketuk-ketuk kepala. :D
Aku berpikir demikian, karena pengalamanku begitu. Aku blockir FB Masseki justru karena Masseki berarti buatku dan aku tidak ingin menambah sakit hati jika menemukan wall-nya yang sayang-sayangan di "home page of facebook" ku. Saat itu aku ingin membuang semua soal Masseki agar lebih mudah melupakan.
Mungkin Massanto begitu kali ya, jadi aku harus siap-siap jika suatu kali Massanto memblockir FB-ku. :(
Lain dengan Masseki, setelah kublockir FB-nya. Lalu, aku kirim sms, dia masih balas. Lalu setelah sekian bulan, aku mau add lagi. Kulihat dulu, ternyata komen-komenku nggak dihapus. Bisa dua arti, pertama karena di matanya aku tak terlalu membekas di hatinya, jadi ya biarkan saja, tulisan-tulisan ada. Kedua, justru karena aku tetap istimewa di hatinya. Qiqiqi. Duh Lel, kok kamu selalu bikin diri sendiri GR. #ketuk-ketuk kepala. :D
Melancholic Thing
Akhir-akhir ini aku sedang suka mengenang hal-hal yang pernah sebentar kumiliki, namun tak bisa kembali. Namanya kenangan, tentu saja tak bisa kembali.
Tentang harapan ke Maseki, tentang perhatian kecil Massanto, juga perhatian kecil mamanya Massanto.
Suatu kali saat Massanto mau berangkat ke Jerman, dia berangkat dari bandara Adi Sucipto Jogja, sama mamanya ke bandara Soekarno-Hatta (Soe-ta). Aku ingin lihat kepergiannya, jadi aku ke bandara Soeta, namun ternyata aku terlambat, sampai bandara, Massanto sudah masuk pesawat dan tidak bisa keluar lagi. Aku ketemu mamanya, budhe, dan sepupunya. Mamanya baik banget sama aku.
Lalu aku dan mamanya saling berpisah mau pulang. Mamanya, budhe, dan sepupunya menuju bis yang membawa mereka ke Bandung (rumah budhenya), aku menuju tempat tunggu bis Damri. tak lama kemudian mamanya sms, memastikan aku sudah naik bis Damri atau belum, beliau menghawatirkan aku yang pulang malam sendirian naik bis. Berhubung ternyata bisku lama, aku masih menunggu bis sendirian. Terima sms itu, tiba-tiba air mataku jatuh. Lalu nangis terisak sampai tisuku habis. Karena di sana banyak orang, aku malu kalau ketahuan menangis, maka aku minggir ke dekat tong sampah, duduk sembari menangis, menghadap ke suatu tempat yang kira-kira orang-orang nggak lihat wajahku berleleran air mata. Lalu, ada bapak-bapak yang mendekat memberi tisu. Ternyata,ada juga orang asing yang lihat aku nangis. Duh! jadi malu. Aku nangis karena terharu, karena mamanya yang mengkhawatirkan aku pulang malam sendirian, bukan karena nggak ketemu Massanto. Hihihi. Aku terharu karena aku lupa kapan terakhir, ada orang yang menghawatirkan aku pulang. Ih, aku memang mudah terharu :-p.
saat it aku berpikir, betapa beruntungnya punya calon mertua yang baik. Kelak kalau aku melahirkan dan punya bayi, ibuku tak ada, pasti ibu ini akan tulus membantu merawat anakku. Aku nggak paham soal bayi, terbayang betapa repotnya mengurus bayi untuk seorang newbe mother. hwaaa, kok mikirnya jauh amat ya. Qiqiqi.
Nah, sekarang hubunganku dengan Massanto sudah bubar, mamanya nggak jadi mertuaku deh. Ya sudah gpp, semoga aku kelak mendapatkan mertua yang minimal sebaik mamanya Massanto. :-p
Note :
Aku baru ketemu mamanya Massanto 3 kali, tapi aku yakin beliau seorang ibu yang baik dan bijak. God bless you, Ibu Retno. :-)
Tentang harapan ke Maseki, tentang perhatian kecil Massanto, juga perhatian kecil mamanya Massanto.
Suatu kali saat Massanto mau berangkat ke Jerman, dia berangkat dari bandara Adi Sucipto Jogja, sama mamanya ke bandara Soekarno-Hatta (Soe-ta). Aku ingin lihat kepergiannya, jadi aku ke bandara Soeta, namun ternyata aku terlambat, sampai bandara, Massanto sudah masuk pesawat dan tidak bisa keluar lagi. Aku ketemu mamanya, budhe, dan sepupunya. Mamanya baik banget sama aku.
Lalu aku dan mamanya saling berpisah mau pulang. Mamanya, budhe, dan sepupunya menuju bis yang membawa mereka ke Bandung (rumah budhenya), aku menuju tempat tunggu bis Damri. tak lama kemudian mamanya sms, memastikan aku sudah naik bis Damri atau belum, beliau menghawatirkan aku yang pulang malam sendirian naik bis. Berhubung ternyata bisku lama, aku masih menunggu bis sendirian. Terima sms itu, tiba-tiba air mataku jatuh. Lalu nangis terisak sampai tisuku habis. Karena di sana banyak orang, aku malu kalau ketahuan menangis, maka aku minggir ke dekat tong sampah, duduk sembari menangis, menghadap ke suatu tempat yang kira-kira orang-orang nggak lihat wajahku berleleran air mata. Lalu, ada bapak-bapak yang mendekat memberi tisu. Ternyata,ada juga orang asing yang lihat aku nangis. Duh! jadi malu. Aku nangis karena terharu, karena mamanya yang mengkhawatirkan aku pulang malam sendirian, bukan karena nggak ketemu Massanto. Hihihi. Aku terharu karena aku lupa kapan terakhir, ada orang yang menghawatirkan aku pulang. Ih, aku memang mudah terharu :-p.
saat it aku berpikir, betapa beruntungnya punya calon mertua yang baik. Kelak kalau aku melahirkan dan punya bayi, ibuku tak ada, pasti ibu ini akan tulus membantu merawat anakku. Aku nggak paham soal bayi, terbayang betapa repotnya mengurus bayi untuk seorang newbe mother. hwaaa, kok mikirnya jauh amat ya. Qiqiqi.
Nah, sekarang hubunganku dengan Massanto sudah bubar, mamanya nggak jadi mertuaku deh. Ya sudah gpp, semoga aku kelak mendapatkan mertua yang minimal sebaik mamanya Massanto. :-p
Note :
Aku baru ketemu mamanya Massanto 3 kali, tapi aku yakin beliau seorang ibu yang baik dan bijak. God bless you, Ibu Retno. :-)
Mimisan Pada Dewasa
Malam ini, aku mimisan dan keluar dahak gumpalan darah. Ini pertama kali aku mimisan sejak dewasa. Terakhir mimisan saat SD. Dua hari ini badanku memang nggak enak, dahi panas, tulang tangan serasa ngilu, aku segera olah raga ringan untuk menyegarkan tubuh, tapi dahiku masih tetap panas hingga sekarang.
Aku sempat nangis. Takut mati. Ih lebay ya..
Aku ingat ibuku, kangen ibuku. Kalau dulu aku takut, aku bisa datang dan meluk dia.
Sekarang tidak bisa.
Ibuku meninggal saat umurku 19 tahun. Umur yang sedang labil membutuhkan dampingan ibu.
Bapakku meninggal ketika aku umur 9 tahun.
Tapi bukan berarti aku protes lho ya sama Allah.
Tuhan sayang pada setiap orang.
Tentang jalan hidup yang kulewati, pasti Dia punya pertimbangan sendiri.
Namun, barangkali ada efek dari kehilangan orang tua.
Aku sering jadi keras kepala, hanya percaya sama keputusanku sendiri.
Karena kupikir, aku perhitungan sesuai dengan kemampuanku.
Jika ada resiko, aku tidak ada orangtua, aku yang mengerti aku sendiri yang harus mempertahankan diri.
Kok jadi ngomongin soal pribadi ya, hehe
Aku hanya coba menulis dan menulis, agar tidak terlalu takut menghadapi hidup ini.
Trying to be honest and just be me all of time,
Aku sempat nangis. Takut mati. Ih lebay ya..
Aku ingat ibuku, kangen ibuku. Kalau dulu aku takut, aku bisa datang dan meluk dia.
Sekarang tidak bisa.
Ibuku meninggal saat umurku 19 tahun. Umur yang sedang labil membutuhkan dampingan ibu.
Bapakku meninggal ketika aku umur 9 tahun.
Tapi bukan berarti aku protes lho ya sama Allah.
Tuhan sayang pada setiap orang.
Tentang jalan hidup yang kulewati, pasti Dia punya pertimbangan sendiri.
Namun, barangkali ada efek dari kehilangan orang tua.
Aku sering jadi keras kepala, hanya percaya sama keputusanku sendiri.
Karena kupikir, aku perhitungan sesuai dengan kemampuanku.
Jika ada resiko, aku tidak ada orangtua, aku yang mengerti aku sendiri yang harus mempertahankan diri.
Kok jadi ngomongin soal pribadi ya, hehe
Aku hanya coba menulis dan menulis, agar tidak terlalu takut menghadapi hidup ini.
Trying to be honest and just be me all of time,
Nikah Kapan?
Berhubung kisah cintaku bubar semua, mungkin memang Allah sedang memberi jalan agar aku kuliah lagi saja dulu. Karena aku sedang terdorong untuk bisa dapatkan beasiswa ke luar negeri. Soal keinginan menikah sudah lewat. Karena aku ingin menikah tahun kemarin atau tahun ini.
Kupikir jodohku Maseki, eh ternyata dia lebih memilih perempuan lain, seorang anak SMA. Itu artinya Maseki memang belum ingin menikah dalam waktu dekat. Sedangkan saat itu, aku ingin segera menikah. Aku terlalu buru-buru kali ya. Haha. Ya sudah, nggak apa-apa. Kalau Mas Eki nggak pacaran sama anak SMA itu, aku juga mungkin masih terus berharap dan tidak memberi kesempatan Massanto mengenalku. Meski akhirnya hubunganku dengan Massanto meninggalkan luka baru. :(
Keluarga besarku selalu bertanya kapan? Yang berarti kapan nikah. Duh kapan ya? Hanya Allah yang tahu. Untuk sekarang ini sih, aku tidak ingin terlalu berpikir menikah dalam waktu dekat. Kalau priortasku kuliah di luar negeri. Tapi ingin juga membangun relation, sambil menenganl lebih dekat, sampai waktunya cukup untuk kelak menikah. Pokonya seseorang yang selalu ada, meski tidak harus di depan mata. Setidaknya memberi motivasi padaku, meski dari jauh. Tapi jatuh cinta itu buatku tidak mudah ya.
Temanku ada yang dalam setahun bisa jalin relation dengan 7 orang. Parahnya manggilnya sudah "sayang-sayangan" lalu putus. Hihi. Lhah kok malah ngurusin orang ya. Hihihi. Dalam dua tahun ini, hanya 2 orang yang buatku berkesan, siapa lagi kalau bukan Maseki dan Masanto.
Kalau sudah ikhtiar, berarti tinggal doa. ;-)
Aku ingin menikah dengan orang yang kucintai, yang menyayangiku, yang bisa membawaa diri dalam keluarga besarku. Punya mertua yang sayang sama aku, kompak sama ipar, dan punya anak-anak yang menyenangkan hati.
Apalagi ya, pokoknya suami yang minimal sekharisma Maseki atau setulus Massanto. Hihihi.
Kupikir jodohku Maseki, eh ternyata dia lebih memilih perempuan lain, seorang anak SMA. Itu artinya Maseki memang belum ingin menikah dalam waktu dekat. Sedangkan saat itu, aku ingin segera menikah. Aku terlalu buru-buru kali ya. Haha. Ya sudah, nggak apa-apa. Kalau Mas Eki nggak pacaran sama anak SMA itu, aku juga mungkin masih terus berharap dan tidak memberi kesempatan Massanto mengenalku. Meski akhirnya hubunganku dengan Massanto meninggalkan luka baru. :(
Keluarga besarku selalu bertanya kapan? Yang berarti kapan nikah. Duh kapan ya? Hanya Allah yang tahu. Untuk sekarang ini sih, aku tidak ingin terlalu berpikir menikah dalam waktu dekat. Kalau priortasku kuliah di luar negeri. Tapi ingin juga membangun relation, sambil menenganl lebih dekat, sampai waktunya cukup untuk kelak menikah. Pokonya seseorang yang selalu ada, meski tidak harus di depan mata. Setidaknya memberi motivasi padaku, meski dari jauh. Tapi jatuh cinta itu buatku tidak mudah ya.
Temanku ada yang dalam setahun bisa jalin relation dengan 7 orang. Parahnya manggilnya sudah "sayang-sayangan" lalu putus. Hihi. Lhah kok malah ngurusin orang ya. Hihihi. Dalam dua tahun ini, hanya 2 orang yang buatku berkesan, siapa lagi kalau bukan Maseki dan Masanto.
Kalau sudah ikhtiar, berarti tinggal doa. ;-)
Aku ingin menikah dengan orang yang kucintai, yang menyayangiku, yang bisa membawaa diri dalam keluarga besarku. Punya mertua yang sayang sama aku, kompak sama ipar, dan punya anak-anak yang menyenangkan hati.
Apalagi ya, pokoknya suami yang minimal sekharisma Maseki atau setulus Massanto. Hihihi.
Selasa, 08 November 2011
Massanto
Ketika aku cerita tentang hubunganku dengan Massanto, tanggapan teman-temanku menanggapi berbeda-beda. ~ Umur 28 tahun, lulusan sebuah universitas di Jerman (sejak SMP, lalu SMA, kuliah, dan kerja di jerman), ayahnya salah satu dosen kampusku.
"Wah, di Jerman? Pergaulannya pasti bebas. Diselidiki dulu."
"Sejak kecil di Jerman, masih perjaka nggak tuh."
"Wah, kereeeen! Kenal dimana?"
Begitulah kira-kira tanggapan teman-teman saat kuceritakan soal Massanto.
Awal kenal dia dimulai ketika adiknya menulis email padaku akan mengenalkan kakaknya yang sedang mencari jodoh. Menurutnya, Massanto itu orangnya sederhana, nggak macem-macem, nggak suka pesta, nggak minum-minuman keras, cuma minum................Coca cola! Hehe. Poin "soal pergaulan" itu penting sekali buatku.
Pas aku kenal langsung Massanto, dia memang orangnya simple banget, beda sama aku yang rumit. Dia juga lucu, selalu berusaha melucu. Kulitnya lebih putih dariku, tingginya 174 cm, lumayan gendut, (menurutku) cakep, sedikit lugu dan aku yakin dia lelaki yang tanggungjawab. Asiiik.
Lalu apa kekurangan Massanto?
Nobody perfect. Massanto tidak bisa mengendarai motor dan mobil. Hah? Aku kaget awal dengarnya. Aku yang perempuan saja belajar naik motor 6 gigi membelah jalanan Jakarta. Ups, sekali lagi tidak ada manusia yang sempurna. Dia bisa belajar untuk kelak bisa mengendarai motor dan mobil. Tapi kalau tetap nggak bisa, ya sudah, kan bisa jalan kaki dan naik angkutan umum.
Lalu, Massanto juga "berbeda", dalam arti "agak lambat dewasa" dibanding laki-laki seusianya. Dia nampak sedikit seperti anak kecil, meski begitu keputusan-keputusan Massanto itu dewasa. Mungkin agak sulit menggambarkan sosoknya, tapi aku ingin jujur bahwa itu bagiku baik-baik saja. Massanto yang simple, nggak macem-macem, tanggungjawab, dan tulus, ditambah dia "berbeda", aku yakin dia orang yang setia dan tidak akan mencoba hal-hal yang aneh. Menurutku profilnya lebih baik daripada lelaki yang nampak "sempurna", tapi tidak menentramkan hati.
Tentang Massanto yang "berbeda", mamanya pernah bilang karena mungkin mamanya terlalu memanjakannya dan selalu memperlakukan dia seperti anak kecil. Tapi menurutku bukan lantaran itu, ada alasan psikis yang membuatnya menjadi seperti itu, dia seperti membatasi keberanian dirinya untuk mencoba atau menghadapi sesuatu.
Kehadiran Massanto dalam hidupku, meski jarak jauh, menguji ketulusan kasihku. Dan kurasa benar, seiring waktu aku memang menyayanginya.
Ketika komunikasi kami sedang baik-baiknya, tiba-tiba ayahnya keberatan soal keluargaku yang berbasis Islam NU, sedangkan keluarga mereka Islam berbasis Muhammadiyah. Sampai akhirnya hubungan kami dipaksa untuk berakhir. Aku heran, sama sekali tidak menyangka bahwa soal basis agama bisa menjadi masalah besar buat ayahnya, meskipun sama-sama Islam. Itulah yang terjadi di negaraku yang mayoritas Islam. Meski nampak sebagian besar penduduknya Islam, tapi sebenranya berbeda-beda.
Soal tradisi NU atau Muhammadiyah, sejujurnya bagiku sama saja, aku bukan pengikut jamaah atau manhaj tertentu. Ada taradisi NU yang kuikuti, ada juga tradisi Muhammadiyah yang lebih sreg kuyakini. Aku lebih memilih Islam yang berbasis kemanusiaan. Jadi, ketika hubungan kami harus diakhiri, aku sedih sekali, karena telanjur sayang sama dia. Tapi aku juga harus berlapang dada, Allah pasti lebih tahu yang terbaik buatku dan buat Massanto.
"Wah, di Jerman? Pergaulannya pasti bebas. Diselidiki dulu."
"Sejak kecil di Jerman, masih perjaka nggak tuh."
"Wah, kereeeen! Kenal dimana?"
Begitulah kira-kira tanggapan teman-teman saat kuceritakan soal Massanto.
Awal kenal dia dimulai ketika adiknya menulis email padaku akan mengenalkan kakaknya yang sedang mencari jodoh. Menurutnya, Massanto itu orangnya sederhana, nggak macem-macem, nggak suka pesta, nggak minum-minuman keras, cuma minum................Coca cola! Hehe. Poin "soal pergaulan" itu penting sekali buatku.
Pas aku kenal langsung Massanto, dia memang orangnya simple banget, beda sama aku yang rumit. Dia juga lucu, selalu berusaha melucu. Kulitnya lebih putih dariku, tingginya 174 cm, lumayan gendut, (menurutku) cakep, sedikit lugu dan aku yakin dia lelaki yang tanggungjawab. Asiiik.
Lalu apa kekurangan Massanto?
Nobody perfect. Massanto tidak bisa mengendarai motor dan mobil. Hah? Aku kaget awal dengarnya. Aku yang perempuan saja belajar naik motor 6 gigi membelah jalanan Jakarta. Ups, sekali lagi tidak ada manusia yang sempurna. Dia bisa belajar untuk kelak bisa mengendarai motor dan mobil. Tapi kalau tetap nggak bisa, ya sudah, kan bisa jalan kaki dan naik angkutan umum.
Lalu, Massanto juga "berbeda", dalam arti "agak lambat dewasa" dibanding laki-laki seusianya. Dia nampak sedikit seperti anak kecil, meski begitu keputusan-keputusan Massanto itu dewasa. Mungkin agak sulit menggambarkan sosoknya, tapi aku ingin jujur bahwa itu bagiku baik-baik saja. Massanto yang simple, nggak macem-macem, tanggungjawab, dan tulus, ditambah dia "berbeda", aku yakin dia orang yang setia dan tidak akan mencoba hal-hal yang aneh. Menurutku profilnya lebih baik daripada lelaki yang nampak "sempurna", tapi tidak menentramkan hati.
Tentang Massanto yang "berbeda", mamanya pernah bilang karena mungkin mamanya terlalu memanjakannya dan selalu memperlakukan dia seperti anak kecil. Tapi menurutku bukan lantaran itu, ada alasan psikis yang membuatnya menjadi seperti itu, dia seperti membatasi keberanian dirinya untuk mencoba atau menghadapi sesuatu.
Kehadiran Massanto dalam hidupku, meski jarak jauh, menguji ketulusan kasihku. Dan kurasa benar, seiring waktu aku memang menyayanginya.
Ketika komunikasi kami sedang baik-baiknya, tiba-tiba ayahnya keberatan soal keluargaku yang berbasis Islam NU, sedangkan keluarga mereka Islam berbasis Muhammadiyah. Sampai akhirnya hubungan kami dipaksa untuk berakhir. Aku heran, sama sekali tidak menyangka bahwa soal basis agama bisa menjadi masalah besar buat ayahnya, meskipun sama-sama Islam. Itulah yang terjadi di negaraku yang mayoritas Islam. Meski nampak sebagian besar penduduknya Islam, tapi sebenranya berbeda-beda.
Soal tradisi NU atau Muhammadiyah, sejujurnya bagiku sama saja, aku bukan pengikut jamaah atau manhaj tertentu. Ada taradisi NU yang kuikuti, ada juga tradisi Muhammadiyah yang lebih sreg kuyakini. Aku lebih memilih Islam yang berbasis kemanusiaan. Jadi, ketika hubungan kami harus diakhiri, aku sedih sekali, karena telanjur sayang sama dia. Tapi aku juga harus berlapang dada, Allah pasti lebih tahu yang terbaik buatku dan buat Massanto.
Langganan:
Postingan (Atom)