Hari Minggu ini sedang jaga ponakanku Lintang (4,5 tahun). Ayah bundanya kebetulan hari Minggu berangkat kerja. Dia habis nangis karena 4 boneka Shaun the Sheepnya hilang. Tepatnya 'sempat' hilang, namun akhirnya ketemu. Tadi ia main bola sama teman-temannya di depan rumah. Aku sedang di lantai 2, kadang bolak-balik turun nengok dia. Tiba-tiba dia naik di depan pintu kmarku dengan bibir memble, katanya semua boneka dibawa teman-temannya main bola. Dimana? Dia nggak tahu dan lupa nama teman-temannya. Lalu, aku keluar rumah, coba cari ke sana sini. Nggak ada yang tahu. Tanya ke tetangga sebelah, karena di situ juga ada anak usia 6 tahun, siapa tahu ingat nama-nama temannya. Eh, orang tuanya malah bilang, "jangan jawab, ntar malah salah sebut nama." Akhirnya kucari sana sini lagi dan nggak ketemu. Aku naik ke atas mau telepon ponakanku Dion (12 tahun) karena tadi dia sempat main bola juga. Belum sempat telepon, ponakanku Lintang malah bobo di kamar. Aku yang rencana mau pergi mencari boneka itu mengurungkan nunggu Lintang bangun, karena kalau ditinggal dan terbangun pasti nangis. Tapi Lintang terbangun, aku bilang, ayo cari ke rumah mas Ion, siapa tahu dia tahu boneka itu dibawa siapa. Lintang mau bangun.
Saat mau meninggalkan rumah, Ion dan Ihsan di depan rumah mengantar boneka. Syukurlah. tapi serius aku panik, karena Itang nangis dan sedihnya tidak biasa. Dia memang suka banget boneka-boneka itu. Lalu, kubuatin dia susu dan kuambilkan snack cracker abon 4, semua dilalap habis. Tiba-tiba kok tubuhnya panas. Aku bolak balik pegang dahi dan lehernya, panas. Aku cari temperatur untuk memastikan, suhunya 38,3 derajat celcius, suhu ruangan 32. Aku segera googling suhu normal manusia. Pada anak-anak di bawah 12 tahun, suhu tubuh pada malam hari akan berkisar 37,4 derajat celcius. Tetap dianggap normal sepanjang masih berkisar di 36 sampai 38 celcius. Tubuh menunjukkan suhu paling rendah pada pagi hari dan paling tinggi senja hingga malam. Perbedaan suhu terendah ke tertinggi bisa mencapai 1,5 derajat celcius.
Itu artinya suhu tubuh Lintang memang sedikit agak tinggi. Tapi nggak jauh dari ambang normal. Kelebihan 0,3 derajat celcius. Sekarang dia sedang bobo. Semoga bangun tidur nanti, suhunya kembali normal. :-)
Cerita ngalor ngidul yang berlarian di pikiranku. Trying to be honest and just being me all of the times. Just to express, not to impress, not to get comments. ;-)
Minggu, 27 November 2011
Sabtu, 26 November 2011
Friendship is Wonderful
Subhanallah, life is beautiful. Friendship is wonderful. ;-)
Akhir-akhir ini aku sedang senang membangun lebih kuat tentang persahabatan. Juga, membangun persahabatan dengan teman baru. Jauh-jauh di ujung Jakarta, aku datangi. Rasanya ada nuansa batin tersendiri ketika silaturrahim. Menyapa teman lama yang tak sua. Mempererat hubungan dengan teman baru. Semacam ada energi positif yang meliputi tubuhku. Aku yang secara fisik baru sakit dan rasanya tidak mampu berdiri lebih dari 10 menit, kini rasanya aku mampu berdiri selama setengah hari.
Punya banyak sahabat setara punya banyak harta. Punya kenangan yang indah sama halnya membangun kekayaan diri. apa saja yang kulakukan beberapa hari terakhir ini?
Diantaranya saja :
1. Menengok baby Abie, putra pertama Siti dan Mas Mimi (keduanya sahabatku sejak kuliah). Mereka banyak hadir dalam perjalanan hidupku, selalu ada ketika aku membutuhkan. "Nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kau dustakan Lel?" :-)
2. Datang ke acara Kopidarat reuni Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama). Menemukan teman baru, Mas Amru dan Mbak Iik. Menjembatani aku menemukan kontak person mas Nobo dari Cifor.
3. Menengok Hida yang dirawat di RS Jakarta. Tapi saat mau ke RS, bersamaan dia pulang ke kos, so main ke kosnya, ketemu ibunya. Di kosnya, jadi baca profil seorang profesor yang meneliti tanaman obat-obatan. So, inspiring.
4. Menemui mas Adhit, teman baru. Dia datang dari Belanda, sedang menempuh program doktoral. Diajak ke Kompas.com, bertemu wartawan sains. Menginspirasiku untuk juga menulis karya populer tentang perkembangan biologi dan penelitinya. Suatu hari pasti berguna.
5. Menginap di kontrakan Nony. Mendengarkan cerita berjibaku dalam membangun kerajaan bisnis. Btw, aku juga bercita-cita berbisnis di samping tetap menjalani profesi profesional sebagai periset. Amin ya rabbal alamin.
Intinya banyak nilai kita temukan dalam silaturrahim. Seperti janji Allah, silaturrahim akan membuka banyak pintu rizki dan melapangkan hidup. Rizki bukan semata uang, namun lebih dari itu. Rasa tentram, semangat, kesehatan, hubungan yang baik dengan teman, semua itu adalah rizki.
Akhir-akhir ini aku sedang senang membangun lebih kuat tentang persahabatan. Juga, membangun persahabatan dengan teman baru. Jauh-jauh di ujung Jakarta, aku datangi. Rasanya ada nuansa batin tersendiri ketika silaturrahim. Menyapa teman lama yang tak sua. Mempererat hubungan dengan teman baru. Semacam ada energi positif yang meliputi tubuhku. Aku yang secara fisik baru sakit dan rasanya tidak mampu berdiri lebih dari 10 menit, kini rasanya aku mampu berdiri selama setengah hari.
Punya banyak sahabat setara punya banyak harta. Punya kenangan yang indah sama halnya membangun kekayaan diri. apa saja yang kulakukan beberapa hari terakhir ini?
Diantaranya saja :
1. Menengok baby Abie, putra pertama Siti dan Mas Mimi (keduanya sahabatku sejak kuliah). Mereka banyak hadir dalam perjalanan hidupku, selalu ada ketika aku membutuhkan. "Nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kau dustakan Lel?" :-)
2. Datang ke acara Kopidarat reuni Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama). Menemukan teman baru, Mas Amru dan Mbak Iik. Menjembatani aku menemukan kontak person mas Nobo dari Cifor.
3. Menengok Hida yang dirawat di RS Jakarta. Tapi saat mau ke RS, bersamaan dia pulang ke kos, so main ke kosnya, ketemu ibunya. Di kosnya, jadi baca profil seorang profesor yang meneliti tanaman obat-obatan. So, inspiring.
4. Menemui mas Adhit, teman baru. Dia datang dari Belanda, sedang menempuh program doktoral. Diajak ke Kompas.com, bertemu wartawan sains. Menginspirasiku untuk juga menulis karya populer tentang perkembangan biologi dan penelitinya. Suatu hari pasti berguna.
5. Menginap di kontrakan Nony. Mendengarkan cerita berjibaku dalam membangun kerajaan bisnis. Btw, aku juga bercita-cita berbisnis di samping tetap menjalani profesi profesional sebagai periset. Amin ya rabbal alamin.
Intinya banyak nilai kita temukan dalam silaturrahim. Seperti janji Allah, silaturrahim akan membuka banyak pintu rizki dan melapangkan hidup. Rizki bukan semata uang, namun lebih dari itu. Rasa tentram, semangat, kesehatan, hubungan yang baik dengan teman, semua itu adalah rizki.
No More Skyping Goslar - Jakarta
It's Saturday, but no more skyping Goslar-Jakarta! :'(
Berdua dan sendiri tentu saja berbeda. Beberapa waktu lalu masih kadang sedih kalau ingat bahwa hubunganku dengan Massanto harus berakhir.
Tapi, sekarang aku sudah lebih baik menghadapi kehilangan itu. Mengenalnya seperti fase yang tiba-tiba, berpisah pun tiba-tiba.
Bertemu dia ada banyak hikmah. Pertama, selain menemukan banyak kelebihan Massanto, aku juga belajar menerima utuh tentang seseorang.
Saat itu kami janjian di depan benteng Vredeberg. Itu pertemuan kami yang ketiga. Aku naik angkutan umum ke sana, karena sebelumnya dia bilang nggak bisa naik motor, maka akan naik angkutan umum. Tapi, ternyata dia diantar naik motor oleh mamanya. Pulang pun dijemput mamanya pakai motor.
Kalau aku cerita sama teman-teman perempuanku, mereka teriak histeris karena kok bisa-bisanya aku menemukan laki-laki lugu. ("kencan kok diantar mamanya" kata salah satu sahabatku.) Hwaaa. Tapi aku punya banyak alasan untuk membela Massanto. Sejak umur 12-29 tahun (sampai kini), dia tinggal di Jerman, wajar dong nggak bisa naik motor. Keluarganya kebetulan sedang nggak punya mobil, jadi wajar dong diantar mamanya pakai motor kemana-mana. Siapa tahu dia lupa jalanan Jogja, khawatir tersesat dan kalau dia mau tanya ke orang-orang barangkali bingung bahasanya karena bahasa Indonesianya memang cukup kacau balau. Sebenarnya, hal itu tetap saja tidak wajar, sebagai lelaki di tanah kelahirannya dia tak akan tersesat. Dia hanya tidak dibiasakan berani ambil resiko, dia tidak dibiasakan untuk jadi 'lanang banget'. Di mataku menjadi wajar, karena toleransiku begitu tinggi. Dan itu tidak salah. Ada yang toleransinya jauh lebih tinggi dariku, ada orang yang bisa menerima pasangannya yang bahkan cacat fisik. Kalau Allah berkehendak menanamkan kasih sayang, tak ada yang mustahil.
Nobody perfect, aku coba terima kekurangannya. Aku sempat membayangkan jika menikah sama dia, pada saat-saat genting dan berada di Indonesia mungkin aku akan pergi sendiri, naik motor sendiri. Atau kalau mau jalan-jalan bareng, naik angkutan umum atau taksi. Naik angkutan umum itu tidak nyaman, apalagi tipe dia yang di tempat non-AC mengeluh. Lalu, semoga akan mendorong dia belajar naik motor. siapapun yang memiliki organ tubuh sempurna, apalagi laki-laki, menurutku sangat penting dan wajib bisa naik motor. Juga wajib bisa mengendarai mobil. Karena itu salah satu hal yang bisa diandalkan ketika sedang darurat.
Kalau sejak itu, sejak pertemuan ketiga, aku tahu ayahnya keberatan soal waliku (mas sulungku) yang dikiranya Islam liberal ( masa sih? masku nggak ikut JIL lho), dan ayahnya tidak suka NU (karena basik keluarganya Muhammadiyah dan PKS), padahal basik keluargaku itu sudah kujelaskan sejak awal ke keluarganya, maka jika saat pertemuan itu juga hubungan kami harus diakhiri, aku tidak terlalu sedih.
Tapi sayangnya hubungan kami berakhir saat komunikasi kami sedang sangat bagus. Karena dia sudah di Goslar (Germany) komunikasi lewat FB dan skype. Kalau Massanto sendiri tidak mempermasalahkan soal Nu atau Muhammadiyah. Dia sendiri tidak begitu paham soal organisasi keislaman di Indonesia.
Biasanya kami janjian untuk skype cukup lama hari sabtu atau minggu. Hari-hari biasanya dia kerja sejak pagi sampai malam. Tapi biasanya aku terima message-nya setiap pagi sebelum dia ke kantor, siang saat dia istirahat sejenak di kantor, sore menjelang magrib saat dia masih di kantor, lalu malam saat dia sampai rumah.
Kami selisih waktu kami 5 jam. Jadi, saat ia berangkat kantor jam 8 pagi di Goslar, aku di sini masih bobo. Saat dia pulang kantor dan selesai mandi dan beres-beres jam 9 malam waktu Jerman, di sini jam 2 pagi. Kalau aku sedang mengerjakan kerjaan hingga pagi, aku masih bisa membalasnya, lalu kami ngobrol lewat message. Tepatnya saling kirim puisi. Puisi hanya dua hingga empat baris. soal puisi itu ide dia. Puisinya selalu ada kata Cola-nya. Massanto memang pintar melucu. Aku jadi selalu tertawa. Itu juga salah satu kelebihan Massanto, selalu bikin suasana jadi ceria. Makanya saat dia bikin surat keputusan, dia memintaku agar membencinya karena dia telah menyakitiku. Oh, sedihnya. Ups, ya sudahlah.
Ah iya, di tinggal di apartemen di tengah hutan, di kota kecil. Pulang kantor sampai rumah sekitar jam 8 malam lebih, dan karena musim (apa ya, lupa. hehe) matahari baru tenggelam pukul 9 malam. Kalau gak salah jam 5 pagi sudah terbit, jadi ketika ramadhan 2011 ini puasanya panjang.
Biasanya kalau Sabtu atau Minggu, kami janjian ngobrol skype cukup lama. Tapi kini tak ada lagi bikin janji seperti itu lagi. Hikmahnya, belajar ikhlas atas sesuatu yang datang dan pergi. Pertemuan kami barangkali mendadak, jadi perpisahan pun mendadak. Aku coba berpikir positif bahwa Massanto sudah berupaya atas hubungan kami, dan wajar jika dia memilih mencari jalan damai dengan ayahnya. Lalu, dia pun yang memutuskan untuk tidak bisa melanjutkan hubungan kedekatan denganku dan berjanji bersedia menjadi teman baik, tapi berikutnya dia seolah menutup komunikasi denganku. Komenku di foto-fotonya dihapus, padahal itu komen biasa saja. Sepertinya karena ada pihak yang melarangnya agar jangan lagi komunikasi denganku, nanti terpengaruh Islam liberal. Gubrak! Andai mereka tahu, Islamku biasa saja. Aku bukan manusia fanatik pada manhaj tertentu. Islamku atas dasar nuarni kemanusiaan.
Tapi ya sudahlah, hikmah ini semua, menjadi pelajaran ikhlas buatku dan Massanto. Semoga juga bisa buat pelajaran orang-orang di sekitar kami.
Alhamdulillah, insyallah sudah bisa berlapang dada tentang perpisahan ini. Jadi, biarlah kenangan itu kumasukkan ke dalam kotak dan kupita dengan tali yang indah, lalu disimpan di rak. Suatu hari pasti aku akan menemukan cinta baru, begitu juga dia. Seperti kata pepatah, perlakukan cinta yang sedang kita hadapi sebagai cinta terakhir. Jadi, biarlah hujan menghapus jejak masa lalu. ;-)
Berdua dan sendiri tentu saja berbeda. Beberapa waktu lalu masih kadang sedih kalau ingat bahwa hubunganku dengan Massanto harus berakhir.
Tapi, sekarang aku sudah lebih baik menghadapi kehilangan itu. Mengenalnya seperti fase yang tiba-tiba, berpisah pun tiba-tiba.
Bertemu dia ada banyak hikmah. Pertama, selain menemukan banyak kelebihan Massanto, aku juga belajar menerima utuh tentang seseorang.
Saat itu kami janjian di depan benteng Vredeberg. Itu pertemuan kami yang ketiga. Aku naik angkutan umum ke sana, karena sebelumnya dia bilang nggak bisa naik motor, maka akan naik angkutan umum. Tapi, ternyata dia diantar naik motor oleh mamanya. Pulang pun dijemput mamanya pakai motor.
Kalau aku cerita sama teman-teman perempuanku, mereka teriak histeris karena kok bisa-bisanya aku menemukan laki-laki lugu. ("kencan kok diantar mamanya" kata salah satu sahabatku.) Hwaaa. Tapi aku punya banyak alasan untuk membela Massanto. Sejak umur 12-29 tahun (sampai kini), dia tinggal di Jerman, wajar dong nggak bisa naik motor. Keluarganya kebetulan sedang nggak punya mobil, jadi wajar dong diantar mamanya pakai motor kemana-mana. Siapa tahu dia lupa jalanan Jogja, khawatir tersesat dan kalau dia mau tanya ke orang-orang barangkali bingung bahasanya karena bahasa Indonesianya memang cukup kacau balau. Sebenarnya, hal itu tetap saja tidak wajar, sebagai lelaki di tanah kelahirannya dia tak akan tersesat. Dia hanya tidak dibiasakan berani ambil resiko, dia tidak dibiasakan untuk jadi 'lanang banget'. Di mataku menjadi wajar, karena toleransiku begitu tinggi. Dan itu tidak salah. Ada yang toleransinya jauh lebih tinggi dariku, ada orang yang bisa menerima pasangannya yang bahkan cacat fisik. Kalau Allah berkehendak menanamkan kasih sayang, tak ada yang mustahil.
Nobody perfect, aku coba terima kekurangannya. Aku sempat membayangkan jika menikah sama dia, pada saat-saat genting dan berada di Indonesia mungkin aku akan pergi sendiri, naik motor sendiri. Atau kalau mau jalan-jalan bareng, naik angkutan umum atau taksi. Naik angkutan umum itu tidak nyaman, apalagi tipe dia yang di tempat non-AC mengeluh. Lalu, semoga akan mendorong dia belajar naik motor. siapapun yang memiliki organ tubuh sempurna, apalagi laki-laki, menurutku sangat penting dan wajib bisa naik motor. Juga wajib bisa mengendarai mobil. Karena itu salah satu hal yang bisa diandalkan ketika sedang darurat.
Kalau sejak itu, sejak pertemuan ketiga, aku tahu ayahnya keberatan soal waliku (mas sulungku) yang dikiranya Islam liberal ( masa sih? masku nggak ikut JIL lho), dan ayahnya tidak suka NU (karena basik keluarganya Muhammadiyah dan PKS), padahal basik keluargaku itu sudah kujelaskan sejak awal ke keluarganya, maka jika saat pertemuan itu juga hubungan kami harus diakhiri, aku tidak terlalu sedih.
Tapi sayangnya hubungan kami berakhir saat komunikasi kami sedang sangat bagus. Karena dia sudah di Goslar (Germany) komunikasi lewat FB dan skype. Kalau Massanto sendiri tidak mempermasalahkan soal Nu atau Muhammadiyah. Dia sendiri tidak begitu paham soal organisasi keislaman di Indonesia.
Biasanya kami janjian untuk skype cukup lama hari sabtu atau minggu. Hari-hari biasanya dia kerja sejak pagi sampai malam. Tapi biasanya aku terima message-nya setiap pagi sebelum dia ke kantor, siang saat dia istirahat sejenak di kantor, sore menjelang magrib saat dia masih di kantor, lalu malam saat dia sampai rumah.
Kami selisih waktu kami 5 jam. Jadi, saat ia berangkat kantor jam 8 pagi di Goslar, aku di sini masih bobo. Saat dia pulang kantor dan selesai mandi dan beres-beres jam 9 malam waktu Jerman, di sini jam 2 pagi. Kalau aku sedang mengerjakan kerjaan hingga pagi, aku masih bisa membalasnya, lalu kami ngobrol lewat message. Tepatnya saling kirim puisi. Puisi hanya dua hingga empat baris. soal puisi itu ide dia. Puisinya selalu ada kata Cola-nya. Massanto memang pintar melucu. Aku jadi selalu tertawa. Itu juga salah satu kelebihan Massanto, selalu bikin suasana jadi ceria. Makanya saat dia bikin surat keputusan, dia memintaku agar membencinya karena dia telah menyakitiku. Oh, sedihnya. Ups, ya sudahlah.
Ah iya, di tinggal di apartemen di tengah hutan, di kota kecil. Pulang kantor sampai rumah sekitar jam 8 malam lebih, dan karena musim (apa ya, lupa. hehe) matahari baru tenggelam pukul 9 malam. Kalau gak salah jam 5 pagi sudah terbit, jadi ketika ramadhan 2011 ini puasanya panjang.
Biasanya kalau Sabtu atau Minggu, kami janjian ngobrol skype cukup lama. Tapi kini tak ada lagi bikin janji seperti itu lagi. Hikmahnya, belajar ikhlas atas sesuatu yang datang dan pergi. Pertemuan kami barangkali mendadak, jadi perpisahan pun mendadak. Aku coba berpikir positif bahwa Massanto sudah berupaya atas hubungan kami, dan wajar jika dia memilih mencari jalan damai dengan ayahnya. Lalu, dia pun yang memutuskan untuk tidak bisa melanjutkan hubungan kedekatan denganku dan berjanji bersedia menjadi teman baik, tapi berikutnya dia seolah menutup komunikasi denganku. Komenku di foto-fotonya dihapus, padahal itu komen biasa saja. Sepertinya karena ada pihak yang melarangnya agar jangan lagi komunikasi denganku, nanti terpengaruh Islam liberal. Gubrak! Andai mereka tahu, Islamku biasa saja. Aku bukan manusia fanatik pada manhaj tertentu. Islamku atas dasar nuarni kemanusiaan.
Tapi ya sudahlah, hikmah ini semua, menjadi pelajaran ikhlas buatku dan Massanto. Semoga juga bisa buat pelajaran orang-orang di sekitar kami.
Alhamdulillah, insyallah sudah bisa berlapang dada tentang perpisahan ini. Jadi, biarlah kenangan itu kumasukkan ke dalam kotak dan kupita dengan tali yang indah, lalu disimpan di rak. Suatu hari pasti aku akan menemukan cinta baru, begitu juga dia. Seperti kata pepatah, perlakukan cinta yang sedang kita hadapi sebagai cinta terakhir. Jadi, biarlah hujan menghapus jejak masa lalu. ;-)
Galau Tingkat Tinggi
Judulnya sesuatu banget. :D
Akhir-akhir ini sedang galau, bukan soal cinta, tapi soal karir masa depan. Kebanyakan orang seumurku sudah mengambil keputusan untuk membangun masa depannya, sementara aku masih seperti sedang di dalam kamar, di samping jendela, menatap halaman di balik rinai hujan. Seandainya aku keluar dan di ujung jalan menemukan persimpangan, aku tidak tahu harus ke kiri atau ke kanan.
Setiap orang memang beda mengambil angle tentang hidupnya. Kurasa aku termasuk orang yang bisa melihat banyak sisi positif dari setiap yang hadir di bumi ini. Jadi, meski galau tingkat tinggi, aku yakin semua akan baik-baik saja. Kadang bandul hidup memang perlu bergoyang (galau) untuk menuju titik keseimbangan.
Kadang memang ada hal-hal yang di luar kemampuan kita untuk bisa merubah atau membangunnya. Kadang begitu saja takdir telah memanggil.
Akhir-akhir ini aku merasa sangat terpanggil untuk memanfaatkan background studiku Biologi. Di sisi lain, pengalaman kerjaku jauh di luar bidang sains tersebut. Pengalaman sebagai seniman teater, jurnalis, dan menjadi staf di sebuah lembaga riset sosial, kupikir akan membuatku mantap meninggalkan Biologi. Tapi ternyata tidak, aku masih kadang sedikit membaca soal perkembangan kebiologian. Kadang, semacam ada suara-suara lirih yang memanggil. Sisi positifnya, aplikasi studi Biologi kini di mataku jadi lebih menarik ketimbang saat aku kuliah, itu artinya aku punya peluang untuk melakukan sesuatu yang berarti di bidang itu.
Teman-temanku lulusan Biologi pada umumnya telah mantap memilih jadi peneliti, dosen, guru, atau bidang lain seperti perbankan, asuransi, dan bahkan bisnis. Perjalanan yang mereka lewati tentu saja berbeda denganku. Andaipun ditawari tukaran nasib, rasanya aku pun tak mau. Jadi, aku tidak pernah menyesal apa saja yang telah kuputuskan. Satu-satunya hal yang kusesali adalah jika seandainya nanti aku menjadi beban keluarga atau orang lain. Tentu saja, semoga tidak.
Cita-citaku sebenarnya sederhana, ingin menjadi manusia berguna, mandiri, bebas menjadi diriku sendiri dan tidak membebani siapapun. Sebenarnya kerja paling nyaman adalah menjadi bos untuk diri sendiri, apapun profesinya. Ingin menjadi seorang profesional di suatu bidang dan sekaligus membangun bisnis. Bisnis apa? Belum juga memutuskan. Lhoh?
Kemampuanku rasanya sedang mentok, perlu peningkatan pengetahuan sistematis. Intinya perlu kuliah lagi. Saat ini ingin sekali sekolah lagi di luar negeri. Ingin melihat dunia yang luas ini. Tapi bahasa inggrisku juga masih pas-pasan.
Beberapa waktu lalu dengar cerita dari seorang teman, ada seorang Indonesia menjadi profesor di suatu perguruan tinggi ternama di Eropa, dengan 4 gelar doktor. Itu artinya profesional dalam 4 bidang (wow!), yang ternyata kuliahnya dimulai usia 28 tahun. Waah hebat ya. Aku berarti belum terlambat kan, jika hari ini masih membangun cita-cita untuk kuliah lagi untuk menjadi seorang profesional bidang tertentu.
Tadi diawal kukatakan galau bukan soal cinta, tapi ujungnya sepertinya harus terkait soal itu.
Umurku yang sekarang ini 28 tahun, kalau diukur dengan norma sosial di sini dituntut sudah harus segera menikah. Masa sih harus buru-buru? Ingat pesan Pak Mario Teguh, menikah jangan karena "kalau bukan sekarang, kapan lagi?" atau karena keterpaksaan sejenisnya. Menikahlah dengan penuh kasih dan suka cita. ;-)
Sebelumnya aku juga pernah punya target menikah umur 27 atau 28, kalau saat ini sih belum menentukan target waktu lagi. Aku juga sudah berusaha membangun hubungan serius, sudah berupaya mempertahankan. Tapi faktor jodoh memang ada faktor X yang ikut menentukan. Biarpun kita telah berjuang keras mempertahankan hubungan, jika Tuhan belum berkehendak berjodoh, suatu hubungan tidak bisa diselamatkan. Akan ada waktu yang tepat pada saatnya. Terdengar klise, namun memang demikianlah. Soal jodoh, seringkali kalau terlalu dicari justru kadang sulit ditemukan, jadi lebih bijak saat ini cari beasiswa sekolah saja. Hoho.
Intinya belum menemukan yang saling tepat.
Karena aku memang berniat besar untuk kuliah lagi di LN, jadi kali ini aku punya kriteria calon pendamping hidup yang salah satunya bisa memahami cita-citaku. Mungkin akan ada saatnya berpisah selama 2 tahun, itu bukan sesuatu yang mudah, tapi bisa dilalui jika saling menjaga kepercayaan. Atau syukur punya cita-cita yang sama, kuliah bareng di LN di negara yang sama.
"Sudahlah, kenapa sih harus ribet kuliah lagi di LN? Mendingan belajar mempersiapkan jadi ibu rumah tangga saja, mengurus suami dan anak-anak nggak kalah mulia lho! Jadi perempuan itu bla bla blah." demikian nasihat banyak orang. Siap, aku dengarkan. Jangan salah, aku pernah dalam kondisi itu, mempersiapkan diri untuk kemungkinan seandainya menikah nanti, jadi ibu rumah tangga saja, belajar masak, merawat rumah, dan berpikir apa yang bisa kulakukan untuk tetap produktif dari rumah. Tapi toh nggak nikah-nikah juga. Hohoho. Intinya, berlatih siap dengan segala kemungkinan.
--
Kalau dia yang kuliah di LN, aku harus ikut. Kalau aku yang ke LN, dia mungkin belum tentu bisa ikut, ntar dia mau kerja dimana kalau ikut aku.
Ya Allah, karuniakanlah aku pasangan yang menentramkan hati, yang mencintaiku dan kucintai, senantiasa dan selamanya. Jika masih jauh, maka dekatkanlah, jika sudah dekat, maka tunjukkanlah. Yang membuat hidupku lebih berarti, yang mendukungku kuliah lagi di LN, yang berakhlak baik dan seorang profesional. Yang Kau ridhoi. Amin.
Akhir-akhir ini sedang galau, bukan soal cinta, tapi soal karir masa depan. Kebanyakan orang seumurku sudah mengambil keputusan untuk membangun masa depannya, sementara aku masih seperti sedang di dalam kamar, di samping jendela, menatap halaman di balik rinai hujan. Seandainya aku keluar dan di ujung jalan menemukan persimpangan, aku tidak tahu harus ke kiri atau ke kanan.
Setiap orang memang beda mengambil angle tentang hidupnya. Kurasa aku termasuk orang yang bisa melihat banyak sisi positif dari setiap yang hadir di bumi ini. Jadi, meski galau tingkat tinggi, aku yakin semua akan baik-baik saja. Kadang bandul hidup memang perlu bergoyang (galau) untuk menuju titik keseimbangan.
Kadang memang ada hal-hal yang di luar kemampuan kita untuk bisa merubah atau membangunnya. Kadang begitu saja takdir telah memanggil.
Akhir-akhir ini aku merasa sangat terpanggil untuk memanfaatkan background studiku Biologi. Di sisi lain, pengalaman kerjaku jauh di luar bidang sains tersebut. Pengalaman sebagai seniman teater, jurnalis, dan menjadi staf di sebuah lembaga riset sosial, kupikir akan membuatku mantap meninggalkan Biologi. Tapi ternyata tidak, aku masih kadang sedikit membaca soal perkembangan kebiologian. Kadang, semacam ada suara-suara lirih yang memanggil. Sisi positifnya, aplikasi studi Biologi kini di mataku jadi lebih menarik ketimbang saat aku kuliah, itu artinya aku punya peluang untuk melakukan sesuatu yang berarti di bidang itu.
Teman-temanku lulusan Biologi pada umumnya telah mantap memilih jadi peneliti, dosen, guru, atau bidang lain seperti perbankan, asuransi, dan bahkan bisnis. Perjalanan yang mereka lewati tentu saja berbeda denganku. Andaipun ditawari tukaran nasib, rasanya aku pun tak mau. Jadi, aku tidak pernah menyesal apa saja yang telah kuputuskan. Satu-satunya hal yang kusesali adalah jika seandainya nanti aku menjadi beban keluarga atau orang lain. Tentu saja, semoga tidak.
Cita-citaku sebenarnya sederhana, ingin menjadi manusia berguna, mandiri, bebas menjadi diriku sendiri dan tidak membebani siapapun. Sebenarnya kerja paling nyaman adalah menjadi bos untuk diri sendiri, apapun profesinya. Ingin menjadi seorang profesional di suatu bidang dan sekaligus membangun bisnis. Bisnis apa? Belum juga memutuskan. Lhoh?
Kemampuanku rasanya sedang mentok, perlu peningkatan pengetahuan sistematis. Intinya perlu kuliah lagi. Saat ini ingin sekali sekolah lagi di luar negeri. Ingin melihat dunia yang luas ini. Tapi bahasa inggrisku juga masih pas-pasan.
Beberapa waktu lalu dengar cerita dari seorang teman, ada seorang Indonesia menjadi profesor di suatu perguruan tinggi ternama di Eropa, dengan 4 gelar doktor. Itu artinya profesional dalam 4 bidang (wow!), yang ternyata kuliahnya dimulai usia 28 tahun. Waah hebat ya. Aku berarti belum terlambat kan, jika hari ini masih membangun cita-cita untuk kuliah lagi untuk menjadi seorang profesional bidang tertentu.
Tadi diawal kukatakan galau bukan soal cinta, tapi ujungnya sepertinya harus terkait soal itu.
Umurku yang sekarang ini 28 tahun, kalau diukur dengan norma sosial di sini dituntut sudah harus segera menikah. Masa sih harus buru-buru? Ingat pesan Pak Mario Teguh, menikah jangan karena "kalau bukan sekarang, kapan lagi?" atau karena keterpaksaan sejenisnya. Menikahlah dengan penuh kasih dan suka cita. ;-)
Sebelumnya aku juga pernah punya target menikah umur 27 atau 28, kalau saat ini sih belum menentukan target waktu lagi. Aku juga sudah berusaha membangun hubungan serius, sudah berupaya mempertahankan. Tapi faktor jodoh memang ada faktor X yang ikut menentukan. Biarpun kita telah berjuang keras mempertahankan hubungan, jika Tuhan belum berkehendak berjodoh, suatu hubungan tidak bisa diselamatkan. Akan ada waktu yang tepat pada saatnya. Terdengar klise, namun memang demikianlah. Soal jodoh, seringkali kalau terlalu dicari justru kadang sulit ditemukan, jadi lebih bijak saat ini cari beasiswa sekolah saja. Hoho.
Intinya belum menemukan yang saling tepat.
Karena aku memang berniat besar untuk kuliah lagi di LN, jadi kali ini aku punya kriteria calon pendamping hidup yang salah satunya bisa memahami cita-citaku. Mungkin akan ada saatnya berpisah selama 2 tahun, itu bukan sesuatu yang mudah, tapi bisa dilalui jika saling menjaga kepercayaan. Atau syukur punya cita-cita yang sama, kuliah bareng di LN di negara yang sama.
"Sudahlah, kenapa sih harus ribet kuliah lagi di LN? Mendingan belajar mempersiapkan jadi ibu rumah tangga saja, mengurus suami dan anak-anak nggak kalah mulia lho! Jadi perempuan itu bla bla blah." demikian nasihat banyak orang. Siap, aku dengarkan. Jangan salah, aku pernah dalam kondisi itu, mempersiapkan diri untuk kemungkinan seandainya menikah nanti, jadi ibu rumah tangga saja, belajar masak, merawat rumah, dan berpikir apa yang bisa kulakukan untuk tetap produktif dari rumah. Tapi toh nggak nikah-nikah juga. Hohoho. Intinya, berlatih siap dengan segala kemungkinan.
--
Kalau dia yang kuliah di LN, aku harus ikut. Kalau aku yang ke LN, dia mungkin belum tentu bisa ikut, ntar dia mau kerja dimana kalau ikut aku.
Ya Allah, karuniakanlah aku pasangan yang menentramkan hati, yang mencintaiku dan kucintai, senantiasa dan selamanya. Jika masih jauh, maka dekatkanlah, jika sudah dekat, maka tunjukkanlah. Yang membuat hidupku lebih berarti, yang mendukungku kuliah lagi di LN, yang berakhlak baik dan seorang profesional. Yang Kau ridhoi. Amin.
Perjuangan Mencari Soulmate
Perjuangan mencari soulmate.
Tuhan sayang sama setiap orang tapi tiap orang diberi karunia dan ujian yang berbeda-beda. Kenapa begitu, karena konon agar tiap orang mengambil hikmah dari tiap peristiwa, juga berusaha mengenalNya, kata ahli sufi, Tuhan ingin dikenali.
Apa hubungannya dengan jodoh. Karena hal itu memang salah satu hak prerogatifnya. Kita tidak bisa menebak kelak akan menghabiskan hidup dengan siapa, akan bertemu siapa.
Seorang temanku yang punya prinsip tidak pacaran, dia sebelum menemukan jodohnya, bolak balik taaruf, tapi belum juga sreg. Kami sering saling berkelakar, kalau tiap tahun ganti cerita.
Bahkan saat dia menemukan jodohnya, bertemu yang pertama kali langsung lamaran. Menurutku dia nampak sangat bahagia. Begitulah jodoh, kalau memang sudah yakin, biar pun belum pernah bertemu langsung tapi bisa timbul rasa kasih sayang dan percaya. Salah satu tanda kebesaran Allah. Verily in this are signs for those who believe.
Sebenarnya nggak jauh beda denganku, aku juga beberapa kali mencoba menjalin hubungan serius saling mengenal. Mungkin sama saja namanya taaruf, hanya saja aku berkomunikasi intens langsung, pernah juga dibarengi komunikasi seorang perantara. Kalau namanya taaruf murni konon komunikasi harus selalu melalui perantara.
Ada yang tekun cari jodoh, tapi belum juga dapat. Tapi aku yakin, Tuhan punya cara yang tidak pernah terduga. Pada suatu siang bolong, seorang teman tiba-tiba menghubungiku akan mengenalkan dengan seseorang yang sedang serius cari jodoh. Saat itu aku sedang jarang bertemu orang. Sedang kebanyakan di kantor, di suatu tempat yang jarang bertemu orang baru. Meski akhirnya bubar, namun membuatku percaya satu hal, bahwa ketika Tuhan berkehendak, maka yang akan terjadi, terjadilah. Sungguh, Dia Maha Kuasa.
Lain halnya ketika aku jadi wartawan, hampir tiap hari kenalan dengan orang baru, tak jarang kenalan pemuda yang prospektif. Tapi tak satupun aku jatuh hati. Malah tertarik sama polisi yang hanya kukenal lewat dunia maya. Tapi jelas identitasnya, adik kelasku di UGM yang kemudian masuk Akpol. Mungkin karena dia di mataku polisi berbeda, sopan, respek sama orang lain, dan pintar. Namanya juga tertarik ada 1001 kebaikan yang bisa kulihat. Haha. Kalau aku gak tertarik, meski semua orang bilang seseorang itu keren bla bla blah, di mataku biasa saja.
Cerita soal polisi itu sudah usai, dia kini sudah punya pasangan. Sementara aku kini totally jomblo.
Ya Allah dimana pasangan jiwaku? Atau jika menurut Engkau aku sebaiknya kuliah lagi, mohon berikan semangat dan kekuatan untuk meraih cita-cita. Alhamdulillah.
Atau, aku harus mencoba mencari jodoh dengan tukeran biodata lengkap? Seperti temanku yang ikut kajian tertentu. Tapi rasanya kok nggak sreg ya, mungkin karena aku sadar mereka yang pakai cara tukar biodata seperti itu biasanya tipikal ikhwan atau akhwat. Nah, ntar kalau misal ada orang tipe aku nyasar ke sana, apa nggak salah alamat. Hehe.
Kurasa aku sudah berupaya, termasuk berupaya mempertahankan hubungan, tidak gegabah memutus. Jadi, selebihnya biarkan Allah yang bekerja. Saatnya kupercayakan pada caraNya saja. Kalau memang saatnya tiba, tak akan ada yang bisa menghambat. Semoga sih segera, karena kalau sudah menemukan pasangan sejati, jiwa rasanya lebih tenteram dan hidup pun lebih fokus arahnya.
Dimana, dimana, dimana? Haha.
Tuhan sayang sama setiap orang tapi tiap orang diberi karunia dan ujian yang berbeda-beda. Kenapa begitu, karena konon agar tiap orang mengambil hikmah dari tiap peristiwa, juga berusaha mengenalNya, kata ahli sufi, Tuhan ingin dikenali.
Apa hubungannya dengan jodoh. Karena hal itu memang salah satu hak prerogatifnya. Kita tidak bisa menebak kelak akan menghabiskan hidup dengan siapa, akan bertemu siapa.
Seorang temanku yang punya prinsip tidak pacaran, dia sebelum menemukan jodohnya, bolak balik taaruf, tapi belum juga sreg. Kami sering saling berkelakar, kalau tiap tahun ganti cerita.
Bahkan saat dia menemukan jodohnya, bertemu yang pertama kali langsung lamaran. Menurutku dia nampak sangat bahagia. Begitulah jodoh, kalau memang sudah yakin, biar pun belum pernah bertemu langsung tapi bisa timbul rasa kasih sayang dan percaya. Salah satu tanda kebesaran Allah. Verily in this are signs for those who believe.
Sebenarnya nggak jauh beda denganku, aku juga beberapa kali mencoba menjalin hubungan serius saling mengenal. Mungkin sama saja namanya taaruf, hanya saja aku berkomunikasi intens langsung, pernah juga dibarengi komunikasi seorang perantara. Kalau namanya taaruf murni konon komunikasi harus selalu melalui perantara.
Ada yang tekun cari jodoh, tapi belum juga dapat. Tapi aku yakin, Tuhan punya cara yang tidak pernah terduga. Pada suatu siang bolong, seorang teman tiba-tiba menghubungiku akan mengenalkan dengan seseorang yang sedang serius cari jodoh. Saat itu aku sedang jarang bertemu orang. Sedang kebanyakan di kantor, di suatu tempat yang jarang bertemu orang baru. Meski akhirnya bubar, namun membuatku percaya satu hal, bahwa ketika Tuhan berkehendak, maka yang akan terjadi, terjadilah. Sungguh, Dia Maha Kuasa.
Lain halnya ketika aku jadi wartawan, hampir tiap hari kenalan dengan orang baru, tak jarang kenalan pemuda yang prospektif. Tapi tak satupun aku jatuh hati. Malah tertarik sama polisi yang hanya kukenal lewat dunia maya. Tapi jelas identitasnya, adik kelasku di UGM yang kemudian masuk Akpol. Mungkin karena dia di mataku polisi berbeda, sopan, respek sama orang lain, dan pintar. Namanya juga tertarik ada 1001 kebaikan yang bisa kulihat. Haha. Kalau aku gak tertarik, meski semua orang bilang seseorang itu keren bla bla blah, di mataku biasa saja.
Cerita soal polisi itu sudah usai, dia kini sudah punya pasangan. Sementara aku kini totally jomblo.
Ya Allah dimana pasangan jiwaku? Atau jika menurut Engkau aku sebaiknya kuliah lagi, mohon berikan semangat dan kekuatan untuk meraih cita-cita. Alhamdulillah.
Atau, aku harus mencoba mencari jodoh dengan tukeran biodata lengkap? Seperti temanku yang ikut kajian tertentu. Tapi rasanya kok nggak sreg ya, mungkin karena aku sadar mereka yang pakai cara tukar biodata seperti itu biasanya tipikal ikhwan atau akhwat. Nah, ntar kalau misal ada orang tipe aku nyasar ke sana, apa nggak salah alamat. Hehe.
Kurasa aku sudah berupaya, termasuk berupaya mempertahankan hubungan, tidak gegabah memutus. Jadi, selebihnya biarkan Allah yang bekerja. Saatnya kupercayakan pada caraNya saja. Kalau memang saatnya tiba, tak akan ada yang bisa menghambat. Semoga sih segera, karena kalau sudah menemukan pasangan sejati, jiwa rasanya lebih tenteram dan hidup pun lebih fokus arahnya.
Dimana, dimana, dimana? Haha.
Jumat, 25 November 2011
Tinggalkan Profesi Dokter, Urus Anak-Anak Pemulung
Profesi dokter adalah harapan banyak orang, orang tua, dan mertua. Tapi, bagaimana jika seorang dokter meninggalkan ruangan kerja prakteknya untuk mengabdikan hidupnya mengurusi anak-anak pemulung?
Awet Muda
Rasanya aku patut bersyukur atas karunia awet muda. Ckckck!
Hingga di umurku yang ke-28 ini seringkali dikira berumur 22 tahun, malah kadang dikira 19, paling tua orang mengiraku berumur 25. Malah kadang mungkin orang mengiraku kurang dari 19 tahun, karena beberapa kali ada cowok bau kencur berseragam SMA menggodaku. aku nggak GR, biasa saja. Kadang geli, karena terlalu muda.
Suatu kali saat aku di bandara hendak menaiki pesawat dapat nomer kursi yang persis dekat pintu. Itu artinya, penumpang yang dapet posisi itu punya tanggung jawab membuka pintu jika pesawat dalam keadaan mendarat darurat. Itu juga berarti minimal berumur 17 tahun. Saat hendak melewati pemeriksaan, aku tidak membawa identitas. Tapi untunglah aku diantar polisi sarjana hukum yang tugas khusus di bandara, yang mengatakan bahwa aku tamu kapolda.
"Sudah lulus SMA?" tanya petugas bandara. Aku tidak menjawab apapun, menunggu polisi yang menjelaskan.
"Dia 20 tahun, wartawan tamu Polda." jawab polisi.
Setelah sebeberapa saat, polisi itu tanya ulang ke aku, "Lel, kamu 20 atau malah masih 19?"
hHeh?
"Eh, kamu kan wartawan. Berarti sudah lulus kuliah ya." lanjutnya.
Lain kali saat aku tugas wartawan di lapangan, saat di kantin.
"Mbaknya masih masih magang wartawan ya?"
"Lho kok tahu, Bu?" saat itu statusku memang magang, karena di tempat mediaku kerja, sebelum 5 tahun kerja, statusnya tetap saja "magang" alias belum buruh tetap. Dan, aku mikirnya, mungkin karena kalem di lapangan, nggak banyak ribut, jadi nampak anak kemarin sore.
"Karena kayaknya baru lulus SMA ya?" jelas ibu kantin.
Lain waktu, saat ada acara syukuran di rumah masku, tiba-tiba seorang bapak mengacak-acak rambutku yang intinya mendoakan semoga aku betah di sekolah baru. Bapak itu adalah orangtua dari teman ponakanku yang saat itu berumur 17 tahun. Aku dikira ponakanku yang berumur 17 tahun! Wow. saat itu umurku 27 tahun.
Terakhir, seorang kerabat jauh datang, nampaknya lupa tak mengenaliku. Dia mengira aku teman kuliah ponakanku yang sekarang umur 19 tahun. Ehem!
Yang tidak mengenakan, dua anak seragam SMA, nongkrong di tempat ojek, sembari menggoda, "kenalan dong baju pink. Bla..bla..blah!" Hari berikutnya masih nongkrong di situ dan berulah lagi saat aku lewat. "Siang-siang panasan, kenalan dong, siapa tahu kita jodoh!" gubrak! Duh dek, selesaikan dulu tuh PR matematikanya ya!
Yang lebai. Seorang anak muda yang ngakunya teman SD ponakanku Dian (umur 19), tiba-tiba sudah standby dengan motornya nunggu aku yang sedang beli pulsa. Dia maksa mau ngantar, aku tolak baik-baik, eh malah aku diikutin. Akhirnya aku bersedia diboncengin ABG itu sampai tempat angkutan umum, sembari aku bilang "aku tantenya Dian, mau menjemput suamiku." Hahahah.
Hingga di umurku yang ke-28 ini seringkali dikira berumur 22 tahun, malah kadang dikira 19, paling tua orang mengiraku berumur 25. Malah kadang mungkin orang mengiraku kurang dari 19 tahun, karena beberapa kali ada cowok bau kencur berseragam SMA menggodaku. aku nggak GR, biasa saja. Kadang geli, karena terlalu muda.
Suatu kali saat aku di bandara hendak menaiki pesawat dapat nomer kursi yang persis dekat pintu. Itu artinya, penumpang yang dapet posisi itu punya tanggung jawab membuka pintu jika pesawat dalam keadaan mendarat darurat. Itu juga berarti minimal berumur 17 tahun. Saat hendak melewati pemeriksaan, aku tidak membawa identitas. Tapi untunglah aku diantar polisi sarjana hukum yang tugas khusus di bandara, yang mengatakan bahwa aku tamu kapolda.
"Sudah lulus SMA?" tanya petugas bandara. Aku tidak menjawab apapun, menunggu polisi yang menjelaskan.
"Dia 20 tahun, wartawan tamu Polda." jawab polisi.
Setelah sebeberapa saat, polisi itu tanya ulang ke aku, "Lel, kamu 20 atau malah masih 19?"
hHeh?
"Eh, kamu kan wartawan. Berarti sudah lulus kuliah ya." lanjutnya.
Lain kali saat aku tugas wartawan di lapangan, saat di kantin.
"Mbaknya masih masih magang wartawan ya?"
"Lho kok tahu, Bu?" saat itu statusku memang magang, karena di tempat mediaku kerja, sebelum 5 tahun kerja, statusnya tetap saja "magang" alias belum buruh tetap. Dan, aku mikirnya, mungkin karena kalem di lapangan, nggak banyak ribut, jadi nampak anak kemarin sore.
"Karena kayaknya baru lulus SMA ya?" jelas ibu kantin.
Lain waktu, saat ada acara syukuran di rumah masku, tiba-tiba seorang bapak mengacak-acak rambutku yang intinya mendoakan semoga aku betah di sekolah baru. Bapak itu adalah orangtua dari teman ponakanku yang saat itu berumur 17 tahun. Aku dikira ponakanku yang berumur 17 tahun! Wow. saat itu umurku 27 tahun.
Terakhir, seorang kerabat jauh datang, nampaknya lupa tak mengenaliku. Dia mengira aku teman kuliah ponakanku yang sekarang umur 19 tahun. Ehem!
Yang tidak mengenakan, dua anak seragam SMA, nongkrong di tempat ojek, sembari menggoda, "kenalan dong baju pink. Bla..bla..blah!" Hari berikutnya masih nongkrong di situ dan berulah lagi saat aku lewat. "Siang-siang panasan, kenalan dong, siapa tahu kita jodoh!" gubrak! Duh dek, selesaikan dulu tuh PR matematikanya ya!
Yang lebai. Seorang anak muda yang ngakunya teman SD ponakanku Dian (umur 19), tiba-tiba sudah standby dengan motornya nunggu aku yang sedang beli pulsa. Dia maksa mau ngantar, aku tolak baik-baik, eh malah aku diikutin. Akhirnya aku bersedia diboncengin ABG itu sampai tempat angkutan umum, sembari aku bilang "aku tantenya Dian, mau menjemput suamiku." Hahahah.
Langganan:
Postingan (Atom)